Merampas tanah adalah sebuah perbuatan zhalim yang banyak terjadi di masyarakat, termasuk juga dilakukan oleh banyak petani. Perbuatan ini banyak dianggap sebagai perkara yang sepele pada masa sekarang. Mereka para pelaku perbuatan ini menganggap remeh perkara ini bahkan menganggap hal yang biasa terjadi di masyarakat. Padahal merampas tanah termasuk suatu perbuatan yang tergolong dosa besar dan pelakunya diancam di akherat dengan adzab yang keras dan pedih akherat.
Mengenai masalah mengambil tanah orang lain tanpa izin pemiliknya ada beberapa hadits yang akan disebutkan diantaranya;
1.Hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha bahwasanya telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ ظَلَمَ قِيْدَ شِبْرٍ مِنَ الأَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ
“Barang siapa yang berbuat zhalim (dengan mengambil) sejengkal tanah maka dia akan dikalungi (dengan tanah) dari tujuh lapis bumi.” [1]
2.Hadits yang diriwayatkan dari Sa’id bin Zaid rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berasabda:
مَنْ ظَلَمَ مِنَ الأَرْضِ شَيْئًا طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ
“Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah secara zhalim maka dia akan dikalungit (dengan tanah) dari tujuh lapis bumi.”[2]
3.Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar rodhiyallohu ‘anhuma, dia berkata bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ أَخَذَ مِنَ الأَرْضِ شَيْئًا بِغَيْرِ حَقِّهِ خُسِفَ لَهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى سَبْعِ أَرَضِيْنَ
“Barang siapa yang mengambil tanah (meskipun) sedikit tanpa haknya maka dia akan ditenggelamkan dengan tanahnya pada hari kiamat sampai ke dasar tujuh lapis bumi.”[3]
4.Hadits yang diriwayatkan dari Ya’la bin Murrah rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:
أَيُّمَا رَجُلٍ ظَلَمَ شِبْرًا مِنَ الأَرْضِ كَلَّهُ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ أَنْ يَحْفِرَهُ حَتَّى يَبْلُغَ آخِرَ سَبْعِ أَرَضِيْنَ, ثُمَّ يُطَوِّقَهُ إَلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَقْضَى بَيْنَ النَّاسِ
“Siapa saja orang yang menzhalimi (dengan) mengambil sejengkal tanah (orang lain), niscaya Alloh akan membebaninya hingga hari kiamat dari tujuh lapis bumi, lalu Alloh akan mengalungkannya (di lehernya) pada hari kiamat sampai seluruh manusia diadili.”[4]
5.Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Tsabit rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata; aku mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَخَذَ اَرْضًا بِغَيْرِ حَقِّهَا كُلِّفَ أَنْ يَحْمِلَ تُرَابَهَا إِلَى الْمَحْشَرِ
“Barangsiapa yang mengambil tanah tanpa ada haknya, maka dia akan dibebani dengan membawa tanahnya (yang dia rampas) sampai ke padang mahsyar”[5]
Itulah beberapa hadits yang menerangkan tentang masalah merampas atau mengambil tanah yang dapat di ambil banyak pelajaran, diantarnya:
Kerasnya siksa bagi pelakunya
---------------------------
Berkata Syaikh Salim Al-Hilali menerangkan bentuk adzabnya: “Maksud dari dikalungi dari tujuh lapis bumi adalah Alloh membebaninya dengan apa yang dia ambil (secara zhalim) dari tanah tersebut, pada hari kiamat sampai ke padang mahsyar dan menjadikannya sebagaimana membebani di lehernya atau dia disiksa dengan menenggelamkan ke tujuh lapis bumi, dan mengambil seluruh tanah tersebut dan dikalungkan di lehernya.”[6]-
Semantara Syaikh Abdullah Al-Bassam menjelaskan: “Oleh karena itu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwasanya barangsiapa yang mengambil tanah orang tanpa izinnya (merampasnya) baik sedikit ataupun banyak maka dia datang pada hari kiamat dengan adzab yang berat, dimana lehernya menjadi keras dan panjang kemudian dikalungkan tanah yang dirampasnya dan apa yang berada di bawahnya sampai tujuh lapis bumi sebagai balasan baginya yang telah merampas tanah.”[7]
Demikian juga Syaikh Utsaimin menjelaskan bagaimana adzab bagi orang yang merampas tanah orang lain dengan mengatakan: “Manusia jika merampas sejengkal tanah maka dia akan dikalungi dengan tujuh lapis bumi pada hari kiamat, maksudnya menjadikan baginya kalung pada lehernya, kita berlindung kepada Alloh, dia membawanya di hadapan seluruh manusia, di hadapan seluruh makhluk, dia dihinakan pada hari kiamat.”[8]
Sebuah Kezhaliman dan Dosa Besar
----------------------
Merampas tanah merupakan kezhaliman, termasuk dosa besar dan kita harus menghindarinya baik sedikit ataupun banyaknya, sempit maupun luasnya karena tetap saja itu haram dan merupakan dosa besar.
Berkata Syaikh Al Utsaimin rohimahulloh, “Hadits ini memberikan contoh jenis dari macam-macam perbuatan zhalim yaitu kezhaliman dalam masalah tanah, dan masalah merampas tanah termasuk dosa besar.
Dan sabdanya (sejengkal tanah) bukanlah ini bentuk penentuan kadar tetapi bentuk mubalaghah (kiasan) yaitu berarti jika merampas kurang dari sejengkal tanah juga tetap dikalungkan. Orang arab menyebutkannya sebagai bentuk mubalaghah yaitu walaupun sekecil apa pun maka akan dikalungkan kepadanya pada hari kiamat.”[9]
Syaikh Saliem mengaskan: “Kandungan dari hadits (di atas) adalah janganlah meremehkan kezhaliman meski sekecil apapun (walaupun Cuma merampas sejengkal tanah), dan merampas tanah termasuk dosa besar.”[10]
Pemilik bagian atas dan bawahnya
---------------------------------
Dari hadits-hadits di atas juga dapat diambil pelajaran bahwa orang yang memiliki tanah maka dia memiliki juga bagian bawah sampai tujuh lapis bumi dan juga bagian atas berupa ruang udara.
Syaikh Utsaimin rohimahulloh menjelaskan: “Di dalam Hadits ini (hadits ‘Aisyah) menunjukkan dalil bahwa orang memiliki tanah maka dia memiliki juga (tanah) bagian bawahnya sampai tujuh lapis bumi, tidaklah boleh seseorang melubangi kecuali dengan izinnya. Misalkan kamu ditakdirkan mempunyai tanah seluas tiga meter persegi dan sekeliling (tanahmu) adalah tanah milik tetanggamu, kemudian tetanggamu bermaksud untuk membuat lubang/terowongan diantara tanahnya, dan melewati bagian bawah tanahmu maka tidaklah dia dibenarkan dalam hal ini karena kamu memiliki tanah dan apa saja yang berada di bawah tanah tersebut sampai tujuh lapis bumi. Sebagaimana juga ruang udara (di atas tanahmu) adalah milikmu sampai ke langit. Maka seseorang tidak bisa untuk membangun atap kecuali dengan izinmu. Oleh karena itu berkata ulama, ‘Udara itu mengikuti apa yang tetap (tanah), dan tanah itu sampai tujuh lapis bumi. Jadi seseorang (yang memiliki tanah) mempunyai bagian atas bagian bawah (dari tanahnya), tidak boleh seseorang (merampasnya).
Berkata Syaikh ‘Utsaimin menyebutkan bahwa para ulama berkata, ‘Seandainya tetanggamu memiliki pohon, kemudian dahannya memanjang ke tanahmu dan ranting-rantingnya menjadi menutupi tanahmu, maka sesungguhnya tetanggamu harus membenggokkan (dahan tersebut) dari tanahmu, jika tidak memungkinkan untuk dibengkokkan maka (dahan tersebut) harus dipotong, kecuali kamu mengizinkan keberadaannya, karena ruang udara (di atas tanahmu) adalah milikmu, mengikuti (kepemilikkan) apa yang tetap (tanah).”[11]
Berkata Syaikh Saliem: “Barangsiapa memiliki tanah, maka berarti dia memilikinya dari bawah sampai atas. Dan dia berhak melarang orang menggali bagian yang berada di bawah tanahnya, baik berupa lubang ataupun sumur tanpa meminta izin dan persetujuan darinya. Dan dia juga merupakan pemilik tambang dan barang-barang berharga berharga dibawahnya. Dia boleh memperdalam lubang di bawah tanahnya sekehendak hatinya selama tidak membahayakan orang lain yang bertetangga dengannya.”[12]
Kemudian Syaikh Abdullah Al-Bassam melanjutkan penjelasannya: “Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini (Hadits Aisyah rodhiyallohu ‘anha): Bahwa perampasan tanah itu adalah haram baik sedikit maupun banyak, inilah faidah penyebutan kata sejengkal tanah, Benda yang diam (tanah) merampasnya dengan cara menguasainya. Berkata Al-Qurthubi : “Dari hadits ini memungkinkan merampas tanah termasuk dosa besar.”, dan Sesungguhnya orang yang memiliki permukaan tanah dia juga memiliki bagian bawahnya maka tidak boleh seseorang melubangi dari bawah atau membuat lubang atau sumur atau selainnya (ditanah orang lain).” [13]
Bumi terdiri dari tujuh lapis
------------------------
Dalam hadits di atas juga terdapat pelajaran bahwa bumi itu tersusun dari tujuh lapis sebagimana langit yang terdiri lapis, berkata Syaikh Saliem: “Bumi ini terdiri dari tujuh lapis, yang antara satu lapisan dengan yang lainnya tidak saling terpisah. Seandainya lapisan tanah itu terpisah-pisah, niscaya cukup bagi perampas tanah untuk dikalungi tanah yang dirampasnya saja, karena terpisahannya dari tanah yang berada di bawahnya. Wallohu a’lam. Tanah tujuh lapis itu bertingkat-tingkat sebagaimana halnya dengan langit. Hal itu tampak pada lahiriyah firman Alloh subhanahu wa ta’ala
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ [الطلاق : 12]
“Alloh yang menciptakan tujuh lapis langit dan bumi seperti itu pula.” (QS. Ath Thalaq: 12)”[14]
Berkata Syaikh Al Utsaimin rohimallohu: “Kesempurnaan siksa yang lain (selain laknat dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam) adalah apa yang disebutkan dalam hadits ini (Hadits ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha) bahwa jika seseorang merampas sejengkal tanah saja maka dia akan dikalungi dengan (tanah yang dirampas) sampai tujuh lapis bumi pada hari kiamat, karena bumi itu terdiri dari tujuh lapis, sebagaimana yang datang dari as-Sunnah yang jelas, dan sebagaimana yang Alloh subhanahu wa ta’ala sebutkan di dalam al-Quran yaitu yang ditunjukkan dalam firman-Nya subhanahu wa ta’ala:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ [الطلاق : 12]
“Alloh-lah yang menciptakan tujuh lapis langit dan begitu pula bumi.” (QS. Ath Thalaq : 12)
dan sudah ketahui bahwa permisalan di sini bukanlah bentuknya, karena di antara langit dan bumi terdapat perbedaan yang jauh. Langit jauh lebih besar , lebih luas dan lebih agung dari bumi. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
{وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ} [الذاريات : 47]
“Dan langit itu dibangun dengan dengan tangan.” (Adz Dzariyat: 47) , maksudnya dengan kuat dan Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
{وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا} [النبإ : 12]
“Dan Kami bangun di atasmu tujuh langit yang kokoh” (An Naba’ : 12).”[15]
Pengubahan Tanda Batas Tanah
----------------------------------
Kemudian masalah yang kedua adalah merubah tanda batas tanah. Dalil tentang larangan merubah tanda batas adalah hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra, dia berkata: ” Rosululloh memberitahukan kepadaku empat kalimat
لَعَنَ اللهُ مُنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ, لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ, لَعَنَ اللهُ مَنَ آوَى مُحْدِثًا, لَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الأَرْضِ
, ‘Alloh melaknat orang yang menyembelih bagi selain Alloh; Alloh melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya; Alloh melaknat orang yang memberi perlidungan orang yang mengada-adakan sesuatu yang baru (bid’ah); dan Alloh melaknat orang yang merubah tanda batas tanah.” (HR. Imam Muslim dari berbagai jalur).
Perkataan Alloh melaknat maksudnya penjauhan dari rahmat Alloh .
Berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rohimahulloh: “Alloh melaknat orang yang merubah tanda batas tanah (Manarul Ardhi) yaitu tanda atau simbol yang membedakan antara tanah yang menjadi hakmu dan menjadi hak tetanggamu, kemudian kamu merubah batasnya dengan memajukan tanda tersebut atau memundurkannya.”[16]
Berkata Syaikh Al-Utsaimin rohimallohu: “Perkataan ‘Manarul Ardhi’ berarti tanda-tanda pembatas tanah yang telah ditetapkan antar tetangga (antar para pemilik tanah). Siapa yang mengubahnya secara zhalim maka dia terlaknat. Berapa banyak orang yang mengubah batas tanah, apalagi apabila nilai jual tanah itu tinggi, tanahnya subur dengan lokasi yang strategis. Mereka tidak tahu bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa mengambil tanah secara zhalim maka dia akan dibenamkan ke dalam tujuh lapis bumi.” Jadi masalah ini tidak bisa dianggap enteng. Padahal orang yang menyerobot tanah dan mengubah tanda pembatas tanah serta mengambil sesuatu yang bukan haknya tidak tahu bahwa ternyata dia tidak dapat mengambil manfaat dari tanah yang diserobotnya itu karena keburu meninggal dunia sebelum dapat mengambil manfaat darinya atau kemungkinan dia mendapat bencana dari apa yang dia ambilnya.
Kesimpulannya, hadits ini merupakan dalil bahwa mengubah tanda batas tanah termasuk dosa besar, karena itulah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menggabungkan dengan syirik, durhaka kepada kedua orang tua, dan perbuatan bid’ah. Ini menunjukkan yang demikian itu merupakan masalah yang besar, yang harus dihindari oleh manusia dan hendaknya dia takut kepada Alloh.” [17]
Solusi dari dua masalah di atas:
---------------------------------
Bagi para perampas tanah orang lain maka wajib bagi dia mengembalikan tanah yang dia ambil itu kepada pemiliknya.
Berkata Syaikh Abdul Azhim Al Badawi: “Barangsiapa yang merampas tanah kemudian menanaminya atau membangun di dalam tanah tersebut, maka diharuskan untuk mencabut tanamannya dan menghancurkan bangunannya. Karena sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:
لَيْسَ لِعِرْقٍ ظَالِمٍ حَقٌّ
”Tidak ada hak bagi akar yang zhalim.”[18]
Dan apabila dia menanam tanamannya dengan biaya, maka dia mengambil biayanya dan tanaman bagi pemilik tanah. Dari Rafi’ bin Khudaij rodhiyallohu ‘anhu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ زَرَعَ فِيْ أَرْضِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَلَيْسَ لَهُ مِنَ الزَّرْعِ شَيْءٌ, وَ لَهُ نَفَقَتُهُ
“Barangsiapa menanam di tanah suatu kaum dengan tanpa izin mereka maka tidak ada baginya (hak) dari tanaman itu sedikitpun, dan baginya biaya penanamannya.” [19]
Berkata Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi[20]: “Jika barang yang dirampas berupa tanah, kemudian perampas membangun rumah di atasnya ataupun menanam tanaman di atasnya maka rumah tersebut harus dirobohkan/dihancurkan dan tanaman itu harus dicabut, dan tanah tersebut harus diperbaiki kerena kerusakan yang disebabkan pembangunan rumah dan penanaman tanaman tersebut. Atau rumah itu tidak dirobohkan dan tanaman tersebut tidak dicabut, sebagai gantinya perampas meminta ganti atas biaya pembangunan rumah tersebut atau biaya penanaman tanaman tersebut namun itupun jika pemilik tanah menyetujuinya. Karena Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada hak pada tanaman atau bangunan di tanah orang lain tanpa izinnya.”[21]
Perkataan beliau juga diperkuat dengan hadits dari Urwah bin Az-Zubair, dia berkata: telah berkata seorang dari sahabat Rosululloh berkata: sesungguhnya ada dua orang bertengkar mengadu kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang masalah tanah. Salah seorang di antara mereka telah menanam pohon kurma di atas tanah milik yang lain. Maka Rosululloh memutuskan tanah tetap menjadi milik si empunya dan menyuruh pemilik pohon kurma untuk mencabut pohon kurmanya dan beliau bersabda: “Akar yang zhalim tidak mempunyai hak.”
Demikianlah penjelasan dari masalah ini, semoga petani bisa menghindarinya, karena masalah ini sering terjadi di masyarakat dan hendaknya berhati-hati darinya karena termasuk dosa besar dan ancaman siksanya sangat keras dan pedih. Dan apabila diantara kita ada yang telah melakukan perampasan tanah maka segeralah dikembalikan tanah rampasan tersebut sebelum menjadi siksa di akherat. Marilah kita berusaha dengan cara yang halal dan baik dan janganlah kita memberi makan keluarga dengan cara yang haram dan bathil. Firman Alloh subhanahu wa ta’ala:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ [البقرة : 188]
“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian di antara kalian dengan jalan yang bathil.” (QS. Al-Baqarah : 188).
----------------------
[1] Muttafaqun ‘Alaih, Riyadhush Shalihin no. 206.
[2] Muttafaqun ‘Alaih, Imam Bukhari (5/103/2452), Imam Muslim (3/1230/1610).
[3] HR. Imam Bukhari (5/103/2454), Shahih Jami’ush Shaghir no.6385.
[4] HR. Ibnu Hibban no.1167, Imam Ahmad (4/173), Ash Shahihah no.240.
[5] HR. Imam Ahmad (4/173), Ash Shihah no.242.
[6] Kitab Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadhish Shalihin, jilid 1 hal. 302.
[7] Taisirul ‘Alam jilid 2 hal. 231.
[8] Syarhu Riyadush Shalihin Libnil Utsaimin, jilid 1 hal. 753.
[9] Syarhu Riyadush Shalihin Libnil Utsaimin, jilid 1 hal. 753.
[10] Syarah Riyadush Shalihin, jilid hal. 522.
[11] Syarhu Riyadush Shalihin Libnil Utsaimin, jilid 1 hal. 753.
[12] Syarah Riyadush Shalihin, jilid hal. 522.
[13] Taisirul ‘Alam jilid 2 hal. 231.
[14] Syarah Riyadush Shalihin, jilid hal. 522.
[15] Syarhu Riyadush Shalihin Libnil Utsaimin, jilid 1 hal. 753.
[16] Kitabut Tauhid, hal.28.
[17] Syarah Kitab Tauhid, hal.184.
[18] HR. Tirmidzi (2/419/1394), Shahih Tirmidzi (6385), Baihaqi (6/142).
[19] HR. Tirmidzi (2/410/1378), Shahih Jami’ush Shaghir (6272), Ibnu Majah (2/824/2466).
[20] Ensiklopedi Muslim hal. 552.
[21] HR. Abu Dawud, Ad Daruqutni, berkata Tirmidzi, ‘Hadits ini di amalkan sebagian ulama.’
https://abuabdilbarr.wordpress.com/2007/06/22/merampas-tanah-dan-mengubah-tanda-batas-tanah/
Minggu, 30 April 2017
MERAMPAS TANAH DAN MENGUBAH TANDA BATAS TANAH
HUKUM DEMONSTRASI
Kontroversi seputar kebolehan berdemonstrasi memang termasuk masalah yang sering diperdebatkan banyak kalangan. Ada yang mendukung kebolehan berdemonstrasi, namun tidak sedikit yang menolak kebolehannya.
Jumat, 28 April 2017
Misteri Usia 60 Tahun
Benarkah manusia diberi uzur sampai usia 60 tahun? Lalu uzur yang dimaksud itu seperti apa?
Pada hari kiamat kelak, penghuni neraka meminta kepada Allah agar mereka dikeluarkan dari neraka dan dikembalikan ke dunia agar bisa beramal baik, tidak seperti amal kekufuranya yang dulu. Allah berfirman,
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَل
ُMereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal saleh tidak seperti amalan yang telah kami kerjakan (kekufuran).”
Allah menjawab permintaan mereka dengan berfirman,
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا
Bukankah Aku telah memanjangkan usia kalian dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu an-Nadzir (pemberi peringatan)? maka rasakanlah. (QS. Fathir: 37).
Ayat ini menjelaskan bahwa usia yang Allah berikan kepada umat manusia menjadi hujjah dan alasan Allah untuk mengadili manusia, disamping adanya an-Nadzir yang datang kepada kita.
Ulama berbeda pendapat tentang makna an-Nadzir dalam ayat di atas. Diantaranya,
1. Uban di rambut. Ini merupakan pendapat Ibnu Umar, Ikrimah dan Sufyan bin Uyaianah-
2. Nadzir (Sang Pemberi Peringatan) adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini merupakan pendapat Qatadah, Ibn Zaid, dan Ibn Saib.(Zadul Masir, 5/182)
Sehingga di sana ada dua peringatan yang Allah berikan, yang menjadi alasan Allah menuntut manusia, usia dan para utusan.
Peringatan Bagi Yang Berusia 60 Tahun
Dalam hadis shahih, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَة
ًAllah memberi udzur kepada seseorang yang Dia akhirkan ajalnya, hingga sampai usia 60 tahun. (HR. Bukhari 6419).
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,
وَالْمَعْنَى أَنَّهُ لَمْ يَبْقَ لَهُ اعْتِذَارٌ كَأَنْ يَقُولَ لَوْ مُدَّ لِي فِي الْأَجَلِ لَفَعَلْتُ مَا أُمِرْتُ بِهِ ….وَإِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ عُذْرٌ فِي تَرْكِ الطَّاعَةِ مَعَ تَمَكُّنِهِ مِنْهَا بِالْعُمُرِ الَّذِي حَصَلَ لَهُ فَلَا يَنْبَغِي لَهُ حِينَئِذٍ إِلَّا الِاسْتِغْفَارُ وَالطَّاعَةُ وَالْإِقْبَالُ عَلَى الْآخِرَةِ بِالْكُلِّيَّة
ِMakna hadis bahwa udzur dan alasan sudah tidak ada, misalnya ada orang mengatakan, “Andai usiaku dipanjangkan, aku akan melakukan apa yang diperintahkan kepadaku.”Ketika dia tidak memiliki udzur untuk meninggalkan ketaatan, sementara sangat memungkinkan baginya untuk melakukannya, dengan usia yang dia miliki, maka ketika itu tidak ada yang layak untuk dia lakukan selain istighfar, ibadah ketaatan, dan konsentrasi penuh untuk akhirat. (Fathul Bari, 11/240).
Muda Boleh Seenaknya
Hadis di atas tidak bisa kita pahami sebaliknya, bahwa orang yang usianya di bawah 60 tahun, berarti dibolehkan untuk menunda ketaatan dan taubat. Maksud hadis, mereka yang telah mencapai usia 60 tahun, seharusnya lebih banyak konsentrasinya diarahkan untuk akhirat, dan mulai mengurangi kesibukan dunia.Al-Maghamisi mengatakan,
ولا يعني ذلك أبداً أن من دون الستين لهم الحجة على الله، فليس لأحد حجة على الله بعد إرسال الرسل، وإنزال الكتب؛ لكن المقصود من الحديث حث من بلغ هذا السن من الناس أن يتقي الله جل وعلا فيما بقي من عمره
Bukan maksud hadis bahwa orang yang usianya di bawah 60 tahun, berarti dia punya alasan di hadapan Allah. Karena semua orang tidak memiliki alasan di hadapan Allah (untuk melanggar) setelah Allah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab. Namun maksud hadis, motivasi bagi manusia yang telah mencapai usia ini untuk semakin bertaqwa kepada Allah di sisa usianya. (Syarh kitab ar-Raqaiq min Shahih Bukhari).
Nasehat Imam Fudhail bin Iyadh
Dikisahkan dalam kitab al-Hilyah, bahwa Imam Fudhail bin Iyadh – ulama besar di masa Tabi’ Tabiin – (w. 187 H) bernah bertemu dengan seorang yang sudah tua.
“Berapa usia anda?”, tanya Fudhail.
“60 tahun.”, Jawab orang itu.
“Anda selama 60 tahun berjalan menuju Tuhan anda, dan sebentar lagi anda akan sampai.” Komentar Fudhail
“Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un.” Orang itu keheranan.
“Anda paham makna kalimat itu? Anda paham tafsirnya?” tanya Fudhail.
“Tolong jelaskan tafsirnya?” Orang itu balik tanya.
“Anda menyatakan: innaa lillaah (kita milik Allah), artinya kita adalah hamba Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Siapa yang yakin bahwa dia hamba Allah dan dia akan kembali kepada-Nya, seharusnya dia menyadari bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah. Dan siapa yang meyakini hal ini, dia harus sadar bahwa dia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, dia harus menyiapkan jawabannya.” Jelas Fudhail.
“Lalu bagaimana jalan keluarnya?” tanya orang itu.
“Caranya mudah.” Tegas Fudhail.
Kemudia Imam Fudhail menyebutkan sebuah teori bertaubat, yang layak dicatat dengan tinta emas,
تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِي
َBerbuat baiklah di sisa usiamu, dengan itu akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Karena jika kamu masih rajin bermaksiat di sisa usiamu maka kamu akan dihukum karena dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang. (Hilyah Al Awliya’, 8/113).
Tidak ada satupun makhluk yang tahu berapa sisa usianya. Kita tidak tahu kapan maut akan menjemput. Karena itu, apa yang sedang kita alami, itulah sisa usia kita yang sejatinya.
Allahu a’lam
Sumber: https://konsultasisyariah.com/23963-misteri-usia-60-tahun.html
Selasa, 08 September 2015
Pedoman alih aksara Arab ke Latin
Penulisan Arab
|
Alih aksara Qalam
(Inggris)
|
Alih aksara kritis
(Indonesia)
|
Kata dari alih aksara
Qalam
|
Kata dari alih aksara
kritis
|
ـُ
|
o
|
u
|
Omar, Othman, Osama
|
Umar, Utsman, Usamah
|
ث
|
th
|
ts
|
||
ﺫ
|
dh
|
dz
|
Abu Dhar, Al-Tirmidhi
|
|
ش
|
sh
|
sy
|
Aisha, Quraish, Shihab, Shia
|
|
ص
|
s
|
sh
|
sahih
|
shahih
|
ﻅ
|
z
|
zh
|
al-Hafiz
|
al-Hafizh
|
ة
|
t, h (luluh dalam penyerapan)
|
t, h1
|
Abraha, Aqaba, Amina, Aisha, Alqama, fitna,
Haditha, Shia, sura, Osama
|
No.
|
Penulisan Arab
|
Alih aksara kritis
|
Perubahan
|
Kata dari alih aksara
kritis
|
Kata serapan
|
|
1.a.
|
عَ
|
'a
|
'a
|
a
|
Assalamu 'alaykum, 'alayhissalam, syari'at,
'Ashr, 'Abdullah, 'Abdul Muththalib, 'Aisyah, 'Amr, Ibn 'Abbas, 'Utsman ibn
'Affan, Mu'adz, Fir'awn, jama'ah, Jumat
|
Assalamu alaikum, alaihissalam, syariat, Asar,
Abdullah, Abdul Mutthalib, Aisyah, Amar, Ibnu Abbas, Usman bin Affan, Muaz,
Firaun, jamaah, Jumat
|
b.
|
عِ
|
'i
|
'i
|
i
|
'Isa, 'Isya', 'Idul Fithri, 'Idul Adhha,
al-'Iraq, dhu'afa', dha'if, adh-Dha'ifah
|
Isa, Isya, Idul Fitri, Idul Adha, Irak, duafa,
dhaif, ad-Dhaifah
|
c.
|
عُ
|
'u
|
'u
|
u
|
'Umar ibn al-Khaththab, 'Utsman ibn 'Affan,
'ulama`
|
Umar bin Khatthab, Usman bin Affan, ulama
|
2.
|
ء
|
` atau '
|
tidak dilambang-
kan atau ' |
tidak dilambang-
kan |
al-Qur'an, an-Nasa'iyy
|
al-Quran, an-Nasai
|
3.
|
ءْ
|
` atau '
|
tidak dilambang-
kan |
tidak dilambang-
kan |
Isra', 'Isya`, 'ulama`, dhu'afa`, Muwaththa'
|
Isra, Isya, ulama, duafa, Muwattha
|
4.
|
ـِيّ
|
iyy
|
'a
|
i
|
Yahudiyy, Nashraniyy, Nabiyy, kursiyy,
al-Khudriyy, al-Bukhariyy, an-Nasa'iyy, an-Nawawiyy, al-Albaniyy, ma'shiyyat
|
Yahudi, Nasrani, Nabi, kursi, al-Khudri,
al-Bukhari, an-Nasai, an-Nawawi, al-Albani, maksiat
|
5.a.
|
اَلْ
|
al-
|
al-
|
diabaikan
|
al-Qur'an, al-'Iraq, 'Umar bin al-Khaththab,
al-Bukhariyy, an-Nasa'iyy, an-Nawawiyy, al-Albaniyy
|
Quran, Irak, Umar bin Khatthab, Bukhari,
Nasai, Nawawi, Albani
|
b.
|
اَلْ
|
al-
|
al-
|
Al-(ditulis bersambung)
|
||
6.a.
|
ص
|
sh
|
sh
|
s
|
Masjidul Aqsha, Bashrah, ikhlash, shadaqah,
shahih, shalat, Shubh, 'Ashr, tashhih, mushhaf, Nashraniyy, ma'shiyyat
|
Masjidul Aqsha, Basrah, ikhlas, sedekah,
sahih, salat, Subuh, Asar, tashih, mushaf, Nasrani, maksiat
|
b.
|
ث
|
ts
|
ts
|
s
|
hadits, 'Utsman
|
hadis, Usman
|
7.
|
ﺫ
|
dz
|
dz
|
z
|
adzab, adzan, muadzin, madzhab, at-Tirmidzi
|
|
8.
|
ﻅ
|
zh
|
zh
|
z
|
zhahir, zhalim, Zhuhr
|
zahir, zalim, Zuhur
|
9.
|
ﻅ
|
zh
|
zh
|
l
|
hafazh, nazhar, zhahir, zhalim, Zhuhr
|
hafal, nalar, lahir, lalim, Lohor
|
10.
|
ض
|
dh
|
dh
|
d
|
dhu'afa`, haidh, ridha, Ramadhan, 'Idul Adhha
|
duafa, haid, rido, Ramadan, Idul Adha,
|
11.
|
ط
|
th
|
th
|
t
|
'Abdul Muththalib, 'Umar bin al-Khaththab,
Fathimah, 'Idul Fithri, fithrah, Muwaththa', sulthan
|
Abdul Mutthalib, Umar bin Khatthab, Fatimah,
Idul Fitri, fitrah, Muwattha, sultan
|
12.
|
ف
|
f
|
f
|
p
|
fahm, nafs
|
paham, napas
|
13.
|
ق
|
q
|
q
|
k
|
Ya'qub, al-'Iraq, aqidah, akhlaq, fiqh,
haqiqah, nifaq, munafiq, shadaqah, taqlid, taqwa, qadr, qaidah, waqf
|
Ya'kub, Irak, akidah, akhlak, fikih, hakikat,
nifak, munafik, sedekah, taklid, takwa, kadar, kaidah, wakaf
|
14.
|
عْ
|
'
|
'
|
k
|
Ja'far, jama', da'wah, Mi'raj, ma'ruf,
ma'shiyyat, mu'jizat, ta'dil
|
Jakfar, jamak, dakwah, Mikraj, makruf,
maksiat, mukjizat, takdil
|
15.
|
ؤْ
|
'
|
'
|
k
|
mu'min, ru'yah
|
mukmin, rukyat
|
16.a.
|
ـَوْ
|
aw
|
au
|
au
|
Fir'awn, Sawdah
|
Firaun, Saudah
|
b.
|
ـَيْ
|
ay
|
ai
|
ai
|
al-Layl, Layla, Assalamu 'alaykum,
'alayhissalam, bayt, Baytullah, Hudzayfah, Husayn
|
al-Lail, Laila, Assalamu alaikum,
alaihissalam, bait, Baitullah, Huzaifah, Husain
|
17.a.
|
َـَ
|
a
|
a
|
e
|
||
b.
|
ئِ
|
i
|
i
|
e
|
Hijaz, faidah, qaidah
|
Hejaz, faedah, kaedah
|
18.a.
|
ـَـْ
|
-
|
-
|
sisipan a
|
'Ashr, fahm, fajr, khamr, Abu Bakr, Abu Jahl,
Badr, Ka'b, nafs, qadr, Syarf, syarh, waqf
|
Asar, paham, fajar, khamar, Abu Bakar, Abu
Jahal, Badar, Kaab, napas, qadar, Syaraf, syarah, wakaf
|
b.
|
ـِـْ
|
-
|
-
|
sisipan i
|
fiqh, Khidhr
|
fikih, Khidir
|
c.
|
ـُـْ
|
-
|
-
|
sisipan u
|
hukm, Shubh, Zhuhr, khamr
|
hukum, Subuh, Zuhur, khamar
|
Huruf Arab
|
Alih aksara
|
Keterangan
|
ا
|
||
ب
|
B b
|
|
ت
|
T t
|
|
ث
|
Ts ts
|
|
ج
|
J j
|
|
ح
|
Ḥ ḥ
|
h dengan satu titik di bawah
|
خ
|
Kh kh
|
|
د
|
D d
|
|
ذ
|
Dz dz
|
|
ر
|
R r
|
|
ز
|
Z z
|
|
س
|
S s
|
|
ش
|
Sy sy
|
|
ص
|
Sh sh
|
|
ض
|
Dh dh
|
|
ط
|
Th th
|
|
ظ
|
Zh zh
|
|
ع
|
'A 'aʿ
|
voiced pharyngeal fricative
|
غ
|
Gh gh
|
|
ف
|
F f
|
|
ق
|
Q q
|
|
ك
|
K k
|
|
ل
|
L l
|
|
م
|
M m
|
|
ن
|
N n
|
|
ه
|
H h
|
|
و
|
W w
|
|
ء
|
tidak dilambangkan atau '
|
|
ي
|
Y y
|
|
vokal panjang
|
ā ī ū
|
ditandai dengan garis di atas vokal
|
اَﻱْ
|
ay
|
diftong
|
اَﻭْ
|
aw
|
diftong
|
Transliterasi
|
Kata serapan
|
|
haqiqat
|
haqiqah
|
hakikat
|
mu'amalat
|
mu'amalah
|
muamalat, muamalah4
|
mu'jizat
|
mu'jizah
|
mukjizat
|
musyawarat
|
musyawarah
|
musyawarat, musyawarah4
|
ru'yat
|
ru'yah
|
|
shalat
|
shalah
|
salat
|
surat
|
surah
|
|
syari'at
|
syari'ah
|
^4 Penulisan kata yang disarankan oleh KBBI.
^5 Kata 'surat' bermakna umum.
^6 Kata 'surah' bermakna khusus. Kata ini yang disarankan oleh KBBI jika yang dimaksud adalah surah Alquran.
Transliterasi
|
Transkripsi
|
Abd Allah
|
Abdullah, Abdillah, Abdallah
|
Nashir al-Din
|
Nashiruddin
|
Sidrat al-Muntaha
|
|
Syu'ab al-Iman
|
Syu'abul Iman
|
Kitab al-Mi'raj
|
Kitabul Mi'raj
|
Musnad al-Kabir
|
Musnadul Kabir
|
Transliterasi asal
|
Transkripsi
|
Abu Abdullah
|
Abu Abdillah
|
Abu Abdurrahman
|
Abu Abdirrahman
|
Ali bin Abu Thalib
|
Ali bin Abi Thalib
|
Sidratul Muntaha
|
Sidratil Muntaha
|
Tanpa tanda hubung
|
Dengan tanda hubung
|
Al Quran
|
Al-Quran
|
Al Fatihah
|
Al-Fatihah
|
Al Kitab
|
Al-Kitab
|
Transliterasi
|
Transkripsi
|
al-Din
|
ad-Din
|
al-Nawawi
|
an-Nawawi
|
al-Rahman
|
ar-Rahman
|
al-Tirmidzi
|
at-Tirmidzi
|
Al
|
al
|
Al-Quran
|
al-Quran
|
Al-Bukhari
|
al-Bukhari
|
Al-Albani
|
al-Albani
|

