Selasa, 08 September 2015

Pedoman alih aksara Arab ke Latin


Berikut adalah panduan alih aksara dari huruf Arab ke huruf Latin (ejaan bahasa Indonesia). Alihaksara huruf Arab ke huruf Latin dalam ejaan bahasa Indonesia diatur dalam Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K Nomor 158 tahun 1987 - Nomor: 0543 b/u/1987.

Dalam wikipedia, banyak digunakan kata yang berasal dari bahasa Arab dengan aneka ragam lafal dan tulisan walaupun berasal dari kata yang sama. Pedoman ini disusun untuk menunjukkan perbedaan itu agar perbedaan tersebut dapat dipahami. Walaupun banyak variasi dalam penulisan kata dari bahasa Arab, hendaknya kata yang populer diutamakan penggunaannya.
Alih aksara Qalam
Beberapa penulis menggunakan sumber berbahasa Inggris beserta alih aksaranya. Dalam bahasa Inggris, yang sering digunakan adalah alih aksara Qalam. Kadang-kadang, perbedaan alih aksara tersebut dengan alih aksara kritis Indonesia menimbulkan kesalahpahaman dan kekeliruan pembacaan.
Tabel di bawah ini menyajikan perbandingan alih aksara Qalam dengan alih aksara kritis Indonesia.
Penulisan Arab
Alih aksara Qalam (Inggris)
Alih aksara kritis (Indonesia)
Kata dari alih aksara Qalam
Kata dari alih aksara kritis
ـُ
o
u
Omar, Othman, Osama
Umar, Utsman, Usamah
ث
th
ts
Othman, hadith, Haditha, Ibn Kathir, Yathrib
Utsman, hadits, Haditsah, Ibnu Katsir, Yatsrib
dh
dz
Abu Dhar, Al-Tirmidhi
Abu Dzar, At-Tirmidzi
ش
sh
sy
Aisha, Quraish, Shihab, Shia
Aisyah, Quraisy, Syihab, Syi'ah
ص
s
sh
sahih
shahih
z
zh
al-Hafiz
al-Hafizh
ة
t, h (luluh dalam penyerapan)
t, h1
Abraha, Aqaba, Amina, Aisha, Alqama, fitna, Haditha, Shia, sura, Osama
Abrahah, Aqabah, Aisyah, Alqamah, fitnah, Haditsah, Syi'ah, surah, Usamah
Penyerapan kata
Kata dari bahasa Arab yang diserap ke dalam bahasa Indonesia mengalami penyederhanaan atau perubahan, baik dalam hal penulisan maupun pengucapannya. Sebagai contoh, huruf ق (qaf) pada Irak, Ya'kub, akhlak, fikih, kadar, dan kaidah telah diserap menjadi k; sedangkan pada pada Qur'an dan Masjidil Aqsa tetap bentuknya dan dialihaksarakan sebagai q.
Setiap kata serapan dapat mengalami satu atau lebih hal-hal berikut:
1.   Pengabaian apostrof (') untuk alih aksara ain hidup.
2.   Hamzah hidup tidak dilambangkan.
3.   Hamzah mati di akhir kata tidak dilambangkan.
4.   Pengabaian huruf ya yang ditasydid dengan huruf sebelumnya dibaca kasrah.
5.   Kata sandang "al" diabaikan atau ditulis bersambung.
6.   Penyederhanaan alih aksara sh/ṣ[1] dan ts/ṡ menjadi s.
7.   Penyederhanaan alih aksara dz/ż[1] menjadi z.
8.   Penyederhanaan alih aksara zh/ẓ menjadi z.
9.   Perubahan alih aksara zh/ẓ menjadi l.[2]
10. Penyederhanaan alih aksara dh/ḍ menjadi d.[1]
11. Penyederhanaan alih aksara th/ṭ menjadi t.
12. Perubahan alih aksara f menjadi p.
13. Perubahan alih aksara q menjadi k.[3]
14. Perubahan alih aksara ain mati menjadi k.
15. Perubahan alih aksara hamzah mati di tengah kata menjadi k.[3]
16. Alih aksara diftong menggunakan u atau i.
17. Perubahan dialek dari harakat hidup (a, i) menjadi e.
18. Penyisipan huruf sesuai harakat huruf ketiga dari akhir (a, i, atau u) pada kata bahasa Arab dengan huruf kedua dari akhir dibaca mati.
Tabel di bawah ini menyajikan perbandingan antara alih aksara dan kata serapan tersebut.
No.
Penulisan Arab
Alih aksara kritis
Alih aksara diplomatik[4]
Perubahan
Kata dari alih aksara kritis
Kata serapan
1.a.
عَ
'a
'a
a
Assalamu 'alaykum, 'alayhissalam, syari'at, 'Ashr, 'Abdullah, 'Abdul Muththalib, 'Aisyah, 'Amr, Ibn 'Abbas, 'Utsman ibn 'Affan, Mu'adz, Fir'awn, jama'ah, Jumat
Assalamu alaikum, alaihissalam, syariat, Asar, Abdullah, Abdul Mutthalib, Aisyah, Amar, Ibnu Abbas, Usman bin Affan, Muaz, Firaun, jamaah, Jumat
b.
عِ
'i
'i
i
'Isa, 'Isya', 'Idul Fithri, 'Idul Adhha, al-'Iraq, dhu'afa', dha'if, adh-Dha'ifah
Isa, Isya, Idul Fitri, Idul Adha, Irak, duafa, dhaif, ad-Dhaifah
c.
عُ
'u
'u
u
'Umar ibn al-Khaththab, 'Utsman ibn 'Affan, 'ulama`
Umar bin Khatthab, Usman bin Affan, ulama
2.
ء
` atau '
tidak dilambang-
kan atau '
tidak dilambang-
kan
al-Qur'an, an-Nasa'iyy
al-Quran, an-Nasai
3.
ءْ
` atau '
tidak dilambang-
kan
tidak dilambang-
kan
Isra', 'Isya`, 'ulama`, dhu'afa`, Muwaththa'
Isra, Isya, ulama, duafa, Muwattha
4.
ـِيّ
iyy
'a
i
Yahudiyy, Nashraniyy, Nabiyy, kursiyy, al-Khudriyy, al-Bukhariyy, an-Nasa'iyy, an-Nawawiyy, al-Albaniyy, ma'shiyyat
Yahudi, Nasrani, Nabi, kursi, al-Khudri, al-Bukhari, an-Nasai, an-Nawawi, al-Albani, maksiat
5.a.
اَلْ
al-
al-
diabaikan
al-Qur'an, al-'Iraq, 'Umar bin al-Khaththab, al-Bukhariyy, an-Nasa'iyy, an-Nawawiyy, al-Albaniyy
Quran, Irak, Umar bin Khatthab, Bukhari, Nasai, Nawawi, Albani
b.
اَلْ
al-
al-
Al-(ditulis bersambung)
Al-Kitab,2 Al-Qur'an
Alkitab,3 Alquran
6.a.
ص
sh
sh
s
Masjidul Aqsha, Bashrah, ikhlash, shadaqah, shahih, shalat, Shubh, 'Ashr, tashhih, mushhaf, Nashraniyy, ma'shiyyat
Masjidul Aqsha, Basrah, ikhlas, sedekah, sahih, salat, Subuh, Asar, tashih, mushaf, Nasrani, maksiat
b.
ث
ts
ts
s
hadits, 'Utsman
hadis, Usman
7.
dz
dz
z
adzab, adzan, muadzin, madzhab, at-Tirmidzi
azab, azan, muazin, mazhab, Tirmizi
8.
zh
zh
z
zhahir, zhalim, Zhuhr
zahir, zalim, Zuhur
9.
zh
zh
l
hafazh, nazhar, zhahir, zhalim, Zhuhr
hafal, nalar, lahir, lalim, Lohor
10.
ض
dh
dh
d
dhu'afa`, haidh, ridha, Ramadhan, 'Idul Adhha
duafa, haid, rido, Ramadan, Idul Adha,
11.
ط
th
th
t
'Abdul Muththalib, 'Umar bin al-Khaththab, Fathimah, 'Idul Fithri, fithrah, Muwaththa', sulthan
Abdul Mutthalib, Umar bin Khatthab, Fatimah, Idul Fitri, fitrah, Muwattha, sultan
12.
ف
f
f
p
fahm, nafs
paham, napas
13.
ق
q
q
k
Ya'qub, al-'Iraq, aqidah, akhlaq, fiqh, haqiqah, nifaq, munafiq, shadaqah, taqlid, taqwa, qadr, qaidah, waqf
Ya'kub, Irak, akidah, akhlak, fikih, hakikat, nifak, munafik, sedekah, taklid, takwa, kadar, kaidah, wakaf
14.
عْ
'
'
k
Ja'far, jama', da'wah, Mi'raj, ma'ruf, ma'shiyyat, mu'jizat, ta'dil
Jakfar, jamak, dakwah, Mikraj, makruf, maksiat, mukjizat, takdil
15.
ؤْ
'
'
k
mu'min, ru'yah
mukmin, rukyat
16.a.
ـَوْ
aw
au
au
Fir'awn, Sawdah
Firaun, Saudah
b.
ـَيْ
ay
ai
ai
al-Layl, Layla, Assalamu 'alaykum, 'alayhissalam, bayt, Baytullah, Hudzayfah, Husayn
al-Lail, Laila, Assalamu alaikum, alaihissalam, bait, Baitullah, Huzaifah, Husain
17.a.
َـَ
a
a
e
Husayn, jama'ah, Makkah, Madinah, masjid, shadaqah, syaikh
Husein, jemaah, Mekkah, Medinah, mesjid, sedekah, syeikh
b.
ئِ
i
i
e
Hijaz, faidah, qaidah
Hejaz, faedah, kaedah
18.a.
ـَـْ
-
-
sisipan a
'Ashr, fahm, fajr, khamr, Abu Bakr, Abu Jahl, Badr, Ka'b, nafs, qadr, Syarf, syarh, waqf
Asar, paham, fajar, khamar, Abu Bakar, Abu Jahal, Badar, Kaab, napas, qadar, Syaraf, syarah, wakaf
b.
ـِـْ
-
-
sisipan i
fiqh, Khidhr
fikih, Khidir
c.
ـُـْ
-
-
sisipan u
hukm, Shubh, Zhuhr, khamr
hukum, Subuh, Zuhur, khamar
Catatan:
^2 Kata 'Al-Kitab' bermakna umum.
^3 Kata 'Alkitab' menjadi bermakna khusus sebagai nama kitab suci agama Kristen.
Pedoman alih aksara
Tabel di bawah ini menyajikan pedoman alih aksara diplomatis.[4]
Huruf Arab
Alih aksara
Keterangan
ا
ب
B b
ت
T t
ث
Ts ts
ج
J j
ح
Ḥ ḥ
h dengan satu titik di bawah
خ
Kh kh
د
D d
ذ
Dz dz
ر
R r
ز
Z z
س
S s
ش
Sy sy
ص
Sh sh
ض
Dh dh
ط
Th th
ظ
Zh zh
ع
'A 'aʿ
voiced pharyngeal fricative
غ
Gh gh
ف
F f
ق
Q q
ك
K k
ل
L l
م
M m
ن
N n
ه
H h
و
W w
ء
tidak dilambangkan atau '
ي
Y y
vokal panjang
ā ī ū
ditandai dengan garis di atas vokal
اَﻱْ
ay
diftong
اَﻭْ
aw
diftong
Alih aksara dan alih bunyi huruf ta marbuta
Huruf ta marbutah di akhir kata dapat dialihaksarakan sebagai t atau dialihbunyikan sebagai h (pada pembacaan waqaf/berhenti). Bahasa Indonesia dapat menyerap salah satu atau kedua kata tersebut.
Transliterasi
Transkripsi waqaf
Kata serapan
haqiqat
haqiqah
hakikat
mu'amalat
mu'amalah
muamalat, muamalah4
mu'jizat
mu'jizah
mukjizat
musyawarat
musyawarah
musyawarat, musyawarah4
ru'yat
ru'yah
rukyat,4 rukyah
shalat
shalah
salat
surat
surah
surat,5 surah4 6
syari'at
syari'ah
syariat,4 syariah
Catatan:
^4 Penulisan kata yang disarankan oleh KBBI.
^5 Kata 'surat' bermakna umum.
^6 Kata 'surah' bermakna khusus. Kata ini yang disarankan oleh KBBI jika yang dimaksud adalah surah Alquran.
Penulisan kata majemuk
Penulisan kata majemuk dapat dilakukan menurut alih aksara kata perkata atau alih bunyi.
Transliterasi
Transkripsi
Abd Allah
Abdullah, Abdillah, Abdallah
Nashir al-Din
Nashiruddin
Sidrat al-Muntaha
Syu'ab al-Iman
Syu'abul Iman
Kitab al-Mi'raj
Kitabul Mi'raj
Musnad al-Kabir
Musnadul Kabir
Penulisan i'rab (pembacaan)
Penulisan kata majemuk yang berubah cara pembacaannya dapat dilakukan menurut alih aksara asal unsur kata atau alih bunyi.
Transliterasi asal
Transkripsi
Abu Abdullah
Abu Abdillah
Abu Abdurrahman
Abu Abdirrahman
Ali bin Abu Thalib
Ali bin Abi Thalib
Sidratul Muntaha
Sidratil Muntaha
Penulisan kata sandang "Al"
Kata bahasa Arab dengan kata sandang al dapat:
·         Ditulis tanpa atau dengan tanda hubung (-)[3]. Penulisan al tanpa tanda hubung digunakan dalam Al Qur'an dan Terjemahnya Edisi Revisi tahun 1989. Pada tahun 2002, dilakukan revisi kembali sebagai Al-Qur'an dan Terjemahnya. Dalam revisi terakhir ini, al ditulis dengan tanda hubung.
Tanpa tanda hubung
Dengan tanda hubung
Al Quran
Al-Quran
Al Fatihah
Al-Fatihah
Al Kitab
Al-Kitab
·         Ditulis berdasarkan alih aksara (transliterasi) atau alih bunyi (transkripsi). Transliterasi ini mengikuti gaya penulisan dalam bahasa Inggris atau untuk keperluan pengurutan abjad, sedangkan transkripsi lebih banyak penggunaannya dalam bahasa Indonesia yang cenderung menuliskan kata sebagaimana pengucapannya.
Transliterasi
Transkripsi
al-Din
ad-Din
al-Nawawi
an-Nawawi
al-Rahman
ar-Rahman
al-Tirmidzi
at-Tirmidzi
·         Ditulis dengan huruf kapital (Al) atau tidak (al).
Al
al
Al-Quran
al-Quran
Al-Bukhari
al-Bukhari
Al-Albani
al-Albani

Selengkapnya..

ADAB-ADAB DALAM BERDO’A

Oleh
Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani


1. Mengucapkan pujian kepada Allah terlebih dahulu sebelum berdo’a dan diakhiri dengan mengucapkan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Hal itu karena engkau memohon kepada Allah suatu pemberian rahmat dan ampunan, maka pertama kali yang harus dilakukan olehmu adalah memberikan sanjungan dan pengagungan sesuai dengan kedudukan Allah Yang Mahasuci.
عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ قَالَ: بَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدًا إِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَقَالَ: اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ، فَقَالَ رَسُوْلَُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجِلْتَ أَيُّهَا الْمُصَلِّيْ إِذَا صَلَّيْتَ فَقَعَدْتَ فَاحْمَدِاللهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ وَصَلِّ عَلَيَّ ثُمَّ ادْعُهُ قَالَ ثُمَّ صَلَّى رَجُلٌ آخَرُ بَعْدَ ذَلِكَ فَحَمِدَ اللهَ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي ادْعُ تُجَبْ.
Dari Fadhalah bin ‘Ubad Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan duduk-duduk, masuklah seorang laki-laki. Orang itu kemudian melaksanakan shalat dan berdo’a: ‘Ya Allah, ampunilah (dosaku) dan berikanlah rahmat-Mu kepadaku.’ Maka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau telah tergesa-gesa, wahai orang yang tengah berdo’a. Apabila engkau telah selesai melaksanakan shalat lalu engkau duduk berdo’a, maka (terlebih dahulu) pujilah Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya dan bershalawatlah kepadaku, kemudian berdo’alah.’ Kemudian datang orang lain, setelah melakukan shalat dia berdo’a dengan terlebih dahulu mengucapkan puji-pujian dan bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, ‘Wahai orang yang tengah berdo’a, berdo’alah kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkan do’amu.’” [ Shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3476) dan Abu Dawud (no. 1481). Dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam Shahiihul Jaami’ (no. 3988)]


2. Husnuzhzhan (berbaik sangka) kepada Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada-mu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a.” [Al-Baqarah/2: 186]

Allah dekat dengan kita dan Allah bersama kita dengan ilmu-Nya (pengetahuan-Nya), pengawasan-Nya dan penjagaan-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meme-rintahkan kepada kita untuk menyerahkan masalah pengabulan do’a hanya kepada Allah dan harus me-rasa yakin dengan terkabulnya do’a.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِاْلإِجَابَةِ.
“Berdo’alah kepada Allah dalam keadaan engkau merasa yakin akan dikabulkannya do’a.” [Hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Sunannya (no. 3479). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 594)]

Maksud hadits ini adalah kalian harus merasa yakin dan percaya bahwa Allah dengan kemurahan-Nya dan karunia-Nya yang agung tidak akan mengecewakan seseorang yang berdo’a kepada-Nya, apabila dipanjatkan dengan penuh pengharapan dan ikhlas yang sebenar-benarnya. Hal ini disebabkan apabila seseorang yang berdo’a tidak percaya dan yakin akan terkabulnya do’a yang ia panjatkan, maka tidaklah mungkin ia memanjatkan do’anya dengan bersungguh-sungguh.

3. Mengakui dosa-dosa yang diperbuat. Perbuatan tersebut mencerminkan sempurnanya penghambaan terhadap Allah

Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ اللهَ لَيَعْجَبُ مِنَ الْعَبْدِ إِذَا قَالَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ إِنِّيْ قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذُنُوْبِيْ إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، قَالَ: عَبْدِيْ عَرَفَ أَنَّ لَهُ رَباًّ يَغْفِرُ وَ يُعَاقِبُ.
“Sesungguhnya Allah kagum kepada hamba-Nya apabila ia berkata: ‘Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Engkau, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah dosa-dosaku karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau.’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah mengetahui bahwa baginya ada Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum.’” [Shahih: Diriwayatkan oleh al-Hakim (II/98-99) dari Sahabat ‘Ali bin Rabi’ah. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1653), karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah]

4. Bersungguh-sungguh dalam berdo’a
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ وَلاَيَقُوْلَنَّ اللّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِيْ فَإِنَّهُ لاَ مُسْتَكْرِهَ لَهُ.
‘Apabila salah seorang di antara kalian berdo’a maka hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam permohonannya kepada Allah dan janganlah ia berkata, ‘Ya Allah, apabila Engkau sudi, maka kabulkanlah do’aku ini,’ karena sesungguhnya tidak ada yang memaksa Allah.”[Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6338) dan Muslim (no. 2678). Lafazh hadits ini berdasarkan riwayat al-Bukhari].

Maksud dari bersungguh-sungguh dalam berdo’a adalah terus-menerus dalam meminta dan memohon kepada Allah dengan mendesak.

5. Mendesak terus-menerus dalam berdo’a
Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata,
سُرِقَتْ مِلْحَفَةٌ لَهَا، فَجَعَلَتْ تَدْعُوْ عَلَى مَنْ سَرَقَهَا فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: لاَ تُسَبِّخِيْ عَنْهُ.
“Mantel kepunyaannya telah dicuri, kemudian ia mendo’akan kejelekan kepada orang yang mencurinya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Jangan engkau meringankannya.’” [Dha’if: Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya (no. 1497). Didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani t dalam Dha’iif Sunan Abi Dawud (no. 1050)]
Maksudnya janganlah engkau meringankan dosa perilaku mencurinya dengan do’amu untuk kejelekannya.

6. Berdo’a dengan mengulanginya sebanyak tiga kali
Telah diriwayatkan dengan shahih dalam as-Sunnah, sebagaimana hadits riwayat Muslim yang panjang dari Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, 
فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَتَهُ رَفَعَ صَوْتَهُ ثُمَّ دَعَا عَلَيْهِمْ وَكَانَ إِذَا دَعَا دَعَا ثَلاَثاً وَإِذَا سَأَلَ سَأَلَ ثَلاَثاً ثُمَّ قَالَ: اَللّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ، اللّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ، اللّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ.
‘Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalatnya, beliau mengeraskan suaranya, kemudian mendo’akan kejelekan bagi mereka dan apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a, beliau ulang sebanyak tiga kali dan apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon, diulanginya sebanyak tiga kali kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: ‘Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy, Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy, Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy.’”[Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 240) dan Muslim (no. 1794 (107)] .

7. Berdo’a dengan lafazh yang singkat dan padat namun maknanya luas
Yaitu dengan perkataan ringkas dan bermanfaat yang menunjukkan pada makna yang luas dengan lafazh yang pendek dan sampai kepada maksud yang diminta dengan menggunakan susunan kata yang paling sederhana (tidak bersajak-sajak) sebagaimana keterangan yang terdapat dalam Sunan Abi Dawud dan Musnad Imam Ahmad dari ‘Aisyah bahwasanya ia berkata:
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berdo’a dengan do’a-do’a yang singkat dan padat namun makna-nya luas dan tidak berdo’a dengan yang selain itu.” [Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1482), Ahmad (VI/148, 189) dan al-Hakim (I/539). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 4949)]..

Salah satu contoh dari do’a ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Farwah bin Naufal, ia berkata: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah tentang do’a yang senantiasa dipanjatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengucapkan do’a:
اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَشَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku kerjakan dan dari keburukan yang belum aku kerjakan.”[Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2716).

Sedangkan contoh yang lain adalah hadits Abu Musa al-Asy’ari, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau senantiasa berdo’a dengan do’a berikut:
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ خَطِيْئَتِي وَجَهْلِيْ وَإِسْرَافِيْ فِي أَمْرِيْ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ، الَلَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ جِدِّيْ وَهَزْلِيْ وَخَطَئِيْ وَعَمْدِيْ وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِيْ، الَلّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
“Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas kesalahan-kesalahanku, kebodohanku, serta sikap berlebihanku dalam urusanku dan segala sesuatu yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas keseriusanku dan candaku, kekeliruanku dan kesengajaanku, semua itu ada pada diriku. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas apa-apa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, apa-apa yang aku sembunyi-kan dan yang aku tampakkan, serta apa-apa yang Engkau lebih mengetahui daripada aku, Engkaulah Yang Mahamendahulukan (hamba kepada rahmat-Mu) dan Yang Mahamengakhirkan, Engkaulah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.” [Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6399) dan Muslim (no. 2719 (70)].

8. Orang yang berdo’a hendaknya memulai dengan mendo’akan diri sendiri (jika hendak mendo’akan orang lain)

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
“...Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami...” [Al-Hasyr/59: 10]

Firman-Nya yang lain:
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ 
“Musa berdo’a: ‘Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau…’” [Al-A’raaf/7: 151]

Firman-Nya yang lain:
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
“Ya Rabb-ku, berikanlah ampun kepadaku dan kedua ayah ibuku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat).” [Ibrahim/14: 41]

Dari Ibnu ‘Abbas dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَكَرَ أَحَدًا فَدَعَا لَهُ بَدَأَ بِنَفْسِهِ.
“Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingat kepada seseorang, maka beliau mendo’akannya dan sebelumnya beliau mendahulukan berdo’a untuk dirinya sendiri.” [Shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3385) dan Abu Dawud (no. 3984). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 4723)].

Namun hal tersebut bukan merupakan kebiasaan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terkadang memang benar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan orang lain tanpa mendo’akan dirinya sendiri sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah Hajar:
يَرْحَمُ اللهُ أُمَّ إِسْمَاعِيْلَ لَوْ تَرَكَتْهَا لَكَانَتْ عَيْناً مَعِيْناً.
“Semoga Allah memberikan rahmat kepada Ibu Nabi Isma’il, seandainya beliau membiarkan air Zamzam (mengalir bebas) niscaya ia menjadi mata air yang terus mengalir.”[Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (V/ 121, no. 21163). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1669)].. 


9. Memilih berdo’a di waktu yang mustajab (waktu yang pasti dikabulkan), di antaranya adalah:
     
                       a.  Pada waktu tengah malam, 
Dalilnya firman Allah Ta’ala:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” [Adz-Dzaaariyat/51: 18]

Hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ يَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ.
“Rabb kita (Allah) تَبَارَكَ وَتَعَالَى turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir seraya berfirman; ‘Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku saat ini, niscaya Aku akan memperkenankannya, barangsiapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, barangsiapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya.’” [HR. Al-Bukhari no. 1145, Muslim no. 758 dan at-Tirmidzi no. 3498]

          b.  Di antara adzan dan iqamah:
Dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
اَلدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ فَادْعُوْا.
“Do’a yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak, maka berdo’alah.” [HR. Abu Dawud no. 521, at-Tirmidzi no. 212, Ahmad III/155 dan at-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” Syaikh al-Albani menshahihkan dalam Shahiihul Jaami’ no. 3408).

c          c.    Di saat dalam sujud: 
Dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أََقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَ هُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ.
“Saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika dia sedang sujud (kepada Rabb-nya), maka perbanyaklah do’a (dalam sujud kalian).” [HR. Muslim no. 482, Abu Dawud no. 875 dan an-Nasa-i II/226 no. 1137]

d          d.  Ketika adzan, dan
e          e.   Ketika sedang berkecamuk peperangan
Dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثِنْتَانِ لاَ تُرَدَّانِ أَوْ قَلَّماَ تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ عِنْدَ الْبَأْسِ حِيْنَ يُلْحِمُ بَعْضُهُمْ بَعْضاً.
“Dua waktu yang tidak akan ditolak (permohonan yang dipanjatkan di dalamnya, atau sedikit kemungkinan untuk ditolak, yaitu do’a setelah (dikumandangkan) adzan dan do’a ketika berkecamuk peperangan, tatkala satu dan lainnya saling menyerang.” [HR. Abu Dawud no. 2540, ad-Darimi no. 1200, Syaikh al-Albani menshahihkan dalam Shahiihul Jami’ no. 3079].

f.                      f. Setelah waktu ‘Ashar pada hari Jum’at: 
Setelah ‘Ashar pada hari Jum’at, dalilnya:
فِيهِ سَاعَةٌ لاَيُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّيْ يَسْأَلُ اللهَ تَعاَلَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا.
“Pada hari itu (hari Jum’at) terdapat waktu-waktu tertentu, tidaklah seorang hamba berdiri melaksanakan shalat dan berdo’a memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah pasti akan mengabulkannya. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan tangannya (yang menggambaran) waktu itu pendek.” [HR. Al-Bukhari no. 935 dan Muslim no. 852 (13)]

Waktu itu adalah saat setelah shalat ‘Ashar sebagaimana yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zaadul Ma’ad (I/390).

g         g.   Ketika hari ‘Arafah: 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ...
“Sebaik-baik do’a ialah do’a hari Arafah…” [HR. At-Tirmidzi no. 3585, Malik dalam al-Muwaththa’ no. 500, hadits ini dihasankan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani di dalam Shahiihul Jami’ no. 3274 dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 1503]

h         h.  Ketika turun hujan: 
Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ الْمَطَرِ.
“Dua waktu yang padanya sebuah permohonan (do’a) tidak akan ditolak oleh Allah, do’a ketika setelah dikumandangkan adzan dan do’a ketika turun hujan.” [HR. Al-Hakim II/114, Abu Dawud no. 3540. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menghasankannya dalam Shahihul Jami’ no. 3078]

           i. Ketika 10 hari terakhir bulan Ramadhan (Lailatul Qadar).
10 hari terakhir bulan Ramadhan (di dalamnya terdapat Lailatul Qadar). Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang sebaiknya aku baca pada Lailatul Qadar?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bacalah:
اَللّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ.
‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha pemberi maaf dan mencintai pemberian maaf, maka maafkanlah aku.’” [HR. At-Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jami’ no. 4423].


[Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H - Maret 2006M]

Selengkapnya..