Jumat, 28 April 2017

Misteri Usia 60 Tahun

Benarkah manusia diberi uzur sampai usia 60 tahun? Lalu uzur yang dimaksud itu seperti apa?

Pada hari kiamat kelak, penghuni neraka meminta kepada Allah agar mereka dikeluarkan dari neraka dan dikembalikan ke dunia agar bisa beramal baik, tidak seperti amal kekufuranya yang dulu. Allah berfirman,

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَل

ُMereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal saleh tidak seperti amalan yang telah kami kerjakan (kekufuran).”

Allah menjawab permintaan mereka dengan berfirman,

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا

Bukankah Aku telah memanjangkan usia kalian dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu an-Nadzir (pemberi peringatan)? maka rasakanlah. (QS. Fathir: 37).

Ayat ini menjelaskan bahwa usia yang Allah berikan kepada umat manusia menjadi hujjah dan alasan Allah untuk mengadili manusia, disamping adanya an-Nadzir yang datang kepada kita.

Ulama berbeda pendapat tentang makna an-Nadzir dalam ayat di atas. Diantaranya,

1. Uban di rambut. Ini merupakan pendapat Ibnu Umar, Ikrimah dan Sufyan bin Uyaianah-
2. Nadzir (Sang Pemberi Peringatan) adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini merupakan pendapat Qatadah, Ibn Zaid, dan Ibn Saib.(Zadul Masir, 5/182)

Sehingga di sana ada dua peringatan yang Allah berikan, yang menjadi alasan Allah menuntut manusia, usia dan para utusan.

Peringatan Bagi Yang Berusia 60 Tahun

Dalam hadis shahih, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَة  
ًAllah memberi udzur kepada seseorang yang Dia akhirkan ajalnya, hingga sampai usia 60 tahun. (HR. Bukhari 6419).

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

وَالْمَعْنَى أَنَّهُ لَمْ يَبْقَ لَهُ اعْتِذَارٌ كَأَنْ يَقُولَ لَوْ مُدَّ لِي فِي الْأَجَلِ لَفَعَلْتُ مَا أُمِرْتُ بِهِ ….وَإِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ عُذْرٌ فِي تَرْكِ الطَّاعَةِ مَعَ تَمَكُّنِهِ مِنْهَا بِالْعُمُرِ الَّذِي حَصَلَ لَهُ فَلَا يَنْبَغِي لَهُ حِينَئِذٍ إِلَّا الِاسْتِغْفَارُ وَالطَّاعَةُ وَالْإِقْبَالُ عَلَى الْآخِرَةِ بِالْكُلِّيَّة

ِMakna hadis bahwa udzur dan alasan sudah tidak ada, misalnya ada orang mengatakan, “Andai usiaku dipanjangkan, aku akan melakukan apa yang diperintahkan kepadaku.”Ketika dia tidak memiliki udzur untuk meninggalkan ketaatan, sementara sangat memungkinkan baginya untuk melakukannya, dengan usia yang dia miliki, maka ketika itu tidak ada yang layak untuk dia lakukan selain istighfar, ibadah ketaatan, dan konsentrasi penuh untuk akhirat. (Fathul Bari, 11/240).

Muda Boleh Seenaknya

Hadis di atas tidak bisa kita pahami sebaliknya, bahwa orang yang usianya di bawah 60 tahun, berarti dibolehkan untuk menunda ketaatan dan taubat. Maksud hadis, mereka yang telah mencapai usia 60 tahun, seharusnya lebih banyak konsentrasinya diarahkan  untuk akhirat, dan mulai mengurangi kesibukan dunia.Al-Maghamisi mengatakan,

ولا يعني ذلك أبداً أن من دون الستين لهم الحجة على الله، فليس لأحد حجة على الله بعد إرسال الرسل، وإنزال الكتب؛ لكن المقصود من الحديث حث من بلغ هذا السن من الناس أن يتقي الله جل وعلا فيما بقي من عمره

Bukan maksud hadis bahwa orang yang usianya di bawah 60 tahun, berarti dia punya alasan di hadapan Allah. Karena semua orang tidak memiliki alasan di hadapan Allah (untuk melanggar) setelah Allah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab. Namun maksud hadis, motivasi bagi manusia yang telah mencapai usia ini untuk semakin bertaqwa kepada Allah di sisa usianya. (Syarh kitab ar-Raqaiq min Shahih Bukhari).

Nasehat Imam Fudhail bin Iyadh

Dikisahkan dalam kitab al-Hilyah, bahwa Imam Fudhail bin Iyadh – ulama besar di masa Tabi’ Tabiin – (w. 187 H) bernah bertemu dengan seorang yang sudah tua.
“Berapa usia anda?”, tanya Fudhail.
“60 tahun.”, Jawab orang itu.
“Anda selama 60 tahun berjalan menuju Tuhan anda, dan sebentar lagi anda akan sampai.” Komentar Fudhail
“Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un.” Orang itu keheranan.
“Anda paham makna kalimat itu? Anda paham tafsirnya?” tanya Fudhail.
“Tolong jelaskan tafsirnya?” Orang itu balik tanya.
“Anda menyatakan: innaa lillaah (kita milik Allah), artinya kita adalah hamba Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Siapa yang yakin bahwa dia hamba Allah dan dia akan kembali kepada-Nya, seharusnya dia menyadari bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah. Dan siapa yang meyakini hal ini, dia harus sadar bahwa dia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, dia harus menyiapkan jawabannya.” Jelas Fudhail.
“Lalu bagaimana jalan keluarnya?” tanya orang itu.
“Caranya mudah.” Tegas Fudhail.

Kemudia Imam Fudhail menyebutkan sebuah teori bertaubat, yang layak dicatat dengan tinta emas,
تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِي

َBerbuat baiklah di sisa usiamu, dengan itu akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Karena jika kamu masih rajin bermaksiat di sisa usiamu maka kamu akan dihukum karena dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang. (Hilyah Al Awliya’, 8/113).

Tidak ada satupun makhluk yang tahu berapa sisa usianya. Kita tidak tahu kapan maut akan menjemput. Karena itu, apa yang sedang kita alami, itulah sisa usia kita yang sejatinya.

Allahu a’lam

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23963-misteri-usia-60-tahun.html

Selengkapnya..

Imam Diam Sejenak Setelah Membaca Al Fatihah

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada  Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah ditanya,

هل يشرع للإمام السكوت بعد قراءة الفاتحة ليتمكن المصلي من قراءة الفاتحة أم لا ؟

“Apakah disyari’atkan bagi imam untuk diam sejenak setelah membaca Al Fatihah sehingga memungkinkan makmum yang membaca Al Fatihah bisa menyemmpurnakan bacaannya ataukah tidak ?”

Beliau menjawab,

الثابت عن النبي صلى الله عليه وسلم سكتتان :

إحداهما : بعد تكبيرة الإحرام، حتى يأتي بدعاء الاستفتاح والتعوذ سرًّا قبل قراءة الفاتحة .

والثانية : بعد فراغه من القراءة، وقبل الركوع، حتى يرجع إليه نفسه .

أمّا السكوت بعد قراءة الفاتحة من الإمام ليتمكن المأموم من قراءة الفاتحة؛ فهذا لم يثبت فيه شيء عن النبي صلى الله عليه وسلم، وإنما استحسنه بعض العلماء، لكن لا ينكر على من فعله ولا من تركه؛ لأن المأموم مشروع في حقه قراءة الفاتحة، ومشروع له الاستماع لقراءة إمامه، فمن أجل الجمع بين المصلحتين؛ استحسن بعض العلماء هذه السكتة . والله أعلم .

“Dalam riwayat yang dapat dipertanggungjawabkan ada dua tempat dimana Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam diam sejenak, yaitu :

Pertama, setelah takbirotul ihroom hingga selesai membaca do’a iftitah dan ta’awwudz dengan suara yang pelan sebelum membaca Al Fatihah.

Kedua, setelah selesai membaca (surat selain Al Fatihah) sebelum ruku’.

Adapun diamnya setelah membaca Al Fatihah agar memungkinkan makmum menyelesaikan bacaan Al Fatihahnya maka hal tidaklah diriwayatkan dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dengan sanad yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini merupakan "istihsan" sebagian ulama. Akan tetapi tidaklah diingkari orang yang melakukannya atau orang yang tidak melakukannya. Karena makmum disyari’atkan untuk membaca Al Fatihah dan disyari’atkan juga bagi makmum untuk mendengarkan bacaan imamnya. Maka dalam rangka mengakomodir kedua mashlahat di atas maka sebagian ulama beristihsan  diam sejenak setelah membaca Al Fatihah. Allahu a’lam”.

Sumber asli:
--------------
السؤال: هل يشرع للإمام السكوت بعد قراءة الفاتحة ليتمكن المصلي من قراءة الفاتحة أم لا‏؟‏
الإجابة: الثابت عن النبي صلى الله عليه وسلم سكتتان:‏
إحداهما‏:‏ بعد تكبيرة الإحرام، حتى يأتي بدعاء الاستفتاح والتعوذ سرًّا قبل قراءة الفاتحة‏.‏
والثانية‏:‏ بعد فراغه من القراءة، وقبل الركوع، حتى يرجع إليه نفسه‏.‏
أمّا السكوت بعد قراءة الفاتحة من الإمام ليتمكن المأموم من قراءة الفاتحة؛ فهذا لم يثبت فيه شيء عن النبي صلى الله عليه وسلم، وإنما استحسنه بعض العلماء، لكن لا ينكر على من فعله ولا من تركه؛ لأن المأموم مشروع في حقه قراءة الفاتحة، ومشروع له الاستماع لقراءة إمامه، فمن أجل الجمع بين المصلحتين؛ استحسن بعض العلماء هذه السكتة‏‏.

http://ar.islamway.net/fatwa/6637/هل-يشرع-للإمام-السكوت-بعد-
قراءة-الفاتحة
---------------------

Berikut beberapa referensi terkait dengan:
Hukum Diamnya Imam Setelah Membaca Al-Fatihah Agar Makmum Membacanya

حكم سكوت الإمام بعد قراءة الفاتحة ليمكن المأموم من قراءتها

السؤال:
هل يجب على الإمام أن يسكت قليلاً بعد قراءة الفاتحة ليتمكن المأموم من قراءة الفاتحة ؟
تم النشر بتاريخ: 2012-01-16

الجواب:

الحمد لله
لا يجب على الإمام أن يسكت بعد الفاتحة ، من غير نزاع بين العلماء .
قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله : " ولم نعلم نزاعاً بين العلماء أنه لا يجب على الإمام أن يسكت لقراءة المأموم بالفاتحة ولا غيرها " انتهى من "الفتاوى الكبرى" (2/292) .

واختلف في استحباب سكوته ليقرأ المأموم الفاتحة ، على قولين .
قال ابن قدامة رحمه الله: "يستحب أن يسكت الإمام عقيب قراءة الفاتحة سكتة يستريح فيها، ويقرأ فيها من خلفه الفاتحة، كي لا ينازعوه فيها. وهذا مذهب الأوزاعي، والشافعي، وإسحاق.

وكرهه مالك، وأصحاب الرأي.

ولنا، ما روى أبو داود، وابن ماجه أن، سمرة، حدث، أنه حفظ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم سكتتين ؛ سكتة إذا كبر، وسكتة إذا فرغ من قراءة ( غير المغضوب عليهم ولا الضالين ) فأنكر عليه عمران، فكتبا في ذلك إلى أبي بن كعب، فكان في كتابه إليهما، أن سمرة قد حفظ.
قال أبو سلمة بن عبد الرحمن: للإمام سكتتان، فاغتنموا فيهما القراءة بفاتحة الكتاب، إذا دخل في الصلاة وإذا قال ولا الضالين .

وقال عروة بن الزبير: أما أنا فأغتنم من الإمام اثنتين، إذا قال: ( غير المغضوب عليهم ولا الضالين ) ، فأقرأ عندها، وحين يختم السورة، فأقرأ قبل أن يركع.
وهذا يدل على اشتهار ذلك فيما بينهم. رواه الأثرم " انتهى من "المغني"(1/291)
وينظر "المجموع"(3/362) وحديث سمرة رضي الله عنه "ضعفه" الشيخ الألباني رحمه الله

قال شيخ الإسلام رحمه الله: " ولا يستحب للإمام السكوت ليقرأ المأموم عند جماهير العلماء، وهذا مذهب أبي حنيفة ومالك وأحمد بن حنبل وغيرهم. وحجتهم في ذلك أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يكن يسكت ليقرأ المأمومون, ولا نقل هذا أحد عنه, بل ثبت عنه في الصحيح سكوته بعد التكبير للاستفتاح, وفي السنن: ( أنه كان له سكتتان سكتة. في أول القراءة، وسكتة بعد الفراغ من القراءة ). وهي سكتة لطيفة للفصل لا تتسع لقراءة الفاتحة.
وقد روي أن هذه السكتة كانت بعد الفاتحة, ولم يقل أحد: إنه كان له ثلاث سكتات, ولا أربع سكتات, فمن نقل عن النبي صلى الله عليه وسلم ثلاث سكتات أو أربع، فقد قال قولاً لم ينقله عن أحد من المسلمين, والسكتة التي عقب قوله: ( ولا الضالين ) من جنس السكتات التي عند رءوس الآي. ومثل هذا لا يسمى سكوتاً; ولهذا لم يقل أحد من العلماء: إنه يقرأ في مثل هذا...
وقد اختلف العلماء في سكوت الإمام على ثلاثة أقوال:
فقيل: لا سكوت في الصلاة بحال, وهو قول مالك.
وقيل: فيها سكتة واحدة للاستفتاح, كقول أبي حنيفة.
وقيل فيها: سكتتان, وهو قول الشافعي, وأحمد وغيرهما؛ لحديث سمرة بن جندب: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان له سكتتان: " سكتة حين يفتتح الصلاة، وسكتة إذا فرغ من السورة الثانية. قبل أن يركع " فذكر ذلك لعمران بن حصين، فقال: كذب سمرة فكتب في ذلك إلى المدينة إلى أبي بن كعب، فقال: صدق سمرة، رواه أحمد واللفظ له وأبو داود وابن ماجه، والترمذي، وقال حديث حسن. وفي رواية أبي داود: ( سكتة إذا كبر. وسكتة إذا فرغ من ( غير المغضوب عليهم ولا الضالين) ) وأحمد رجح الرواية الأولى واستحب السكتة الثانية; لأجل الفصل، ولم يستحب أحمد أن يسكت الإمام لقراءة المأموم، ولكن بعض أصحابه استحب ذلك، ومعلوم أن النبي صلى الله عليه وسلم لو كان يسكت سكتة تتسع لقراءة الفاتحة، لكان هذا مما تتوفر الهمم والدواعي على نقله، فلما لم ينقل هذا أحد علم أنه لم يكن. والسكتة الثانية في حديث سمرة قد نفاها عمران بن حصين، وذلك أنها سكتة يسيرة، قد لا ينضبط مثلها، وقد روي أنها بعد الفاتحة.
ومعلوم أنه لم يسكت إلا سكتتين، فعلم أن إحداهما طويلة والأخرى بكل حال لم تكن طويلة متسعة لقراءة الفاتحة.
وأيضا فلو كان الصحابة كلهم يقرءون الفاتحة خلفه، إما في السكتة الأولى وإما في الثانية لكان هذا مما تتوفر الهمم والدواعي على نقله، فكيف ولم ينقل هذا أحد عن أحد من الصحابة أنهم كانوا في السكتة الثانية خلفه يقرءون الفاتحة، مع أن ذلك لو كان مشروعاً لكان الصحابة أحق الناس بعلمه، وعمله" انتهى من "الفتاوى الكبرى" (2/292) .

وقال الشيخ ابن باز رحمه الله: ليس هناك دليل صريح صحيح يدل على شرعية سكوت الإمام حتى يقرأ المأموم الفاتحة في الصلاة الجهرية..." انتهى من "مجموع الفتاوى" (11/235).

وقال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله: " والسكتة الثانية: بعد قراءة الفاتحة أخرجها أبو داود وغيره من أهل السنن، وقال الحافظ في الفتح إنها ثابتة، ولكنها سكتة ليست كما قاله بعض الفقهاء، إنها طويلة بحيث يتمكن المأموم من قراءة الفاتحة، بل هي سكتة يسيرة يتأمل الإمام فيها ما سيقرأ بعد الفاتحة، وينتظر شروع المأموم في قراءتها.
والسكتة الثالثة: وهي سكتة لا تكاد تذكر بعد القراءة التي بعد سورة الفاتحة قبل الركوع، لكنها سكتة يسيرة جداً ولهذا حذفت من بعض الأحاديث " انتهى من "مجموع الفتاوى"(13/147) .

لكن لو كان الإمام يسكت بعد قراءة الفاتحة حتى يمكن المأموم من قراءتها فهل يقال إن سكوته بدعة؟

سئل الشيخ ابن باز رحمه الله رحمه الله:
ما حكم سكتة الإمام بعد الفاتحة, وقد سمعت أنها بدعة ؟
فأجاب: الثابت في الأحاديث سكتتان: إحداهما: بعد التكبيرة الأولى، وهذه تسمى سكتة الاستفتاح، والثانية: عند آخر القراءة قبل أن يركع الإمام وهي سكتة لطيفة تفصل بين القراءة والركوع.
وروي سكتة ثالثة بعد قراءة الفاتحة، ولكن الحديث فيها ضعيف، وليس عليها دليل واضح فالأفضل تركها، أما تسميتها بدعة فلا وجه له؛ لأن الخلاف فيها مشهور بين أهل العلم، ولمن استحبها شبهة فلا ينبغي التشديد فيها، ومن فعلها أخذاً بكلام بعض أهل العلم لما ورد في بعض الأحاديث مما يدل على استحبابها، فلا حرج في ذلك.. " انتهى من "مجموع الفتاوى"(11/84).

والحاصل:
لا يستحب للإمام أن يسكت بعد قراءة الفاتحة؛ لعدم ثبوت ما ورد والأصل في العبادات المنع حتى يرد دليل الجواز، فإن سكت سكتة يسيرة ليرجع إليه نفسه أو ليتأمل ما سيقرأ فلا بأس .
والله أعلم

https://islamqa.info/ar/177084

-----------------
Membaca Fatihah dan Mendengar Bacaan Imam Bagi Makmum

هل يقرأ المأموم الفاتحة أم يستمع لقراءة الإمام؟
أمر الله سبحانه وتعالى بالاستماع والتزام الصمت والقرآن يقرأ ( وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ) كما أن النبي صلى الله عليه وسلم حذرنا من أن الصلاة التي لا يقرأ فيها بالفاتحة تبطل . أرجو أن تخبرني ماذا أفعل دون الوقوع في ما يتعارض مع أي من هذين الأمرين إذا كان الإمام لا يترك مجالا للمأمومين لقراءة الفاتحة ؟ وما هو الصحيح في المسألة ؟
تم النشر بتاريخ: 2007-01-05
الجواب :
الحمد لله
أولا :
سبق في جواب السؤال رقم (10995) بيان أن قراءة الفاتحة ركن من أركان الصلاة في حق الإمام والمأموم والمنفرد .
ثانياً :
وأما السكتة التي يسكتها بعض الأئمة بعد قراءتهم للفاتحة ، فليس سكتة طويلة يتمكن المأموم فيها من قراءة الفاتحة ، وإنما هي سكتة يسيرة ، يحصل بها الفصل بين قراءة الفاتحة ، وقراءة السورة .
قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله :
"السكتة بين قراءة الفاتحة ، وقراءة سورة لم ترد عن النبي صلى الله عليه وسلم ، على ما ذهب إليه بعض الفقهاء من أن الإمام يسكت سكوتا يتمكن به المأموم من قراءة الفاتحة ، وإنما هو سكوت يسير يتراد به النفس من جهة ، ويفتح الباب للمأموم من جهة أخرى ، حتى يشرع في القراءة ويكمل ، ولو كان الإمام يقرأ ، فهي سكتة يسيرة ليست طويلة " انتهى.
"فتاوى أركان الإسلام" (ص323-324 ) .
فإذا كان الإمام لا يسكت سكتة طويلة بعد قراءة الفاتحة ، فإن المأموم عليه أن يقرأ الفاتحة ، ولو مع قراءة الإمام السورة ، لأن هذا هو الذي أمر به النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه في صلاة الفجر .
روى أبو داود (823) عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رضي الله عنه قَالَ : كُنَّا خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ ، فَقَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَثَقُلَتْ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ : ( لَعَلَّكُمْ تَقْرَءُونَ خَلْفَ إِمَامِكُمْ ! قُلْنَا : نَعَمْ ، يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ : لَا تَفْعَلُوا إِلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ ، فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا ) .
وقد حسنه الترمذي وصححه البيهقي والخطابي وغيرهم ، وهو نص في وجوب قراءة الفاتحة على المأموم في الصلاة الجهرية.
قال الشيخ ابن باز : " فإن لم يسكت الإمام فالواجب على المأموم أن يقرأ الفاتحة ولو في حال قراءة الإمام في أصح قولي العلماء " انتهى من "فتاوى الشيخ ابن باز" (11/221) .
وقال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله :
"فإن قيل : إذا كان الإمام لا يسكت فمتى يقرأ المأموم الفاتحة ؟
فنقول : يقرأ الفاتحة والإمام يقرأ ؛ لأن الصحابة كانوا يقرؤون مع الرسول صلى الله عليه وسلم فقال : ( لا تفعلوا إلا بأم القرآن ؛ فإنه لا صلاة لمن لم يقرأ بها ) " انتهى .
"فتاوى أركان الإسلام" ( ص322 ) .
وأما قوله تعالى : (وإذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا) فهذا عام مخصوص بغير الفاتحة ، بمعنى أنه يجب الإنصات لقراءة الإمام القرآن في الصلاة إلا إذا كان المأموم يقرأ الفاتحة فقط ، بدليل قول الرسول صلى الله عليه وسلم : ( لَا تَفْعَلُوا إِلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ ، فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا ) وكان ذلك في صلاة الفجر ، وهي صلاة جهرية كما هو معلوم .
فيكون المأموم مأمور بالإنصات إلا عن قراءة الفاتحة .

والله أعلم .

https://islamqa.info/ar/26746

Selengkapnya..

PERANG KHANDAQ

Menurut pendapat jumhur Ulama, perang Khandaq terjadi pada bulan Syawwal tahun lima hijriyah dan sebagian Ulama yang lain menyebutkan bahwa peperangan ini berkecamuk pada bulan Syawwal tahun keempat hijriyah. Al-Baihaqi memandang bahwa pada dasarnya kedua pendapat ini tidak beda. Karena yang berpendapat perang ini terjadi pada tahun ke-4 maksudnya empat tahun setelah Rasûlullâh hijrah ke Madinah dan sebelum tahun ke-5 berakhir.

PEMICU PERANG :
Pemicu perang Khandaq ini dendam lama orang-orang Yahudi yang di usir oleh Rasûlullâh dari Madinah dalam perang Bani Nadhir. Mereka diusir karena mereka menghianati perjanjian yang dibuat dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sejumlah tokoh Yahudi Bani Nadhir dan Bani Wa'il seperti Sallam bin abil Huqaiq, Hayyi bin Akhtab, Kinanah bin abil Huqaiq, Hauzah bin Qais al-Wa'iliy dan Abu Ammar al-Wa'iliy berangkat ke Mekah untuk mengajak kaum musyrikin Quraisy memerangi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka berjanji, "Kami akan bersama kalian berperang sampai berhasil menghancurkan kaum Muslimin."

Mereka juga meyakinkan kaum Quraisy dengan mengatakan, "Agama kalian itu lebih baik daripada agama Muhammad." Tentang orang-orang inilah, Allâh Azza wa Jalla turunkan firman-nya :

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَٰؤُلَاءِ أَهْدَىٰ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا

Apakah kamu tidak memperthatikan orang orang yang diberi bagian dari kitab, mereka mengimani sesembahan selain Allâh dan thagut, serta mengatakan kepada orang kafir(musyrik Mekah) bahwa jalan mereka lebih benar dari pada orang orang beriman. [An-Nisâ’/4:51]

Setelah sepakat dengan kaum Quraisy, tokoh tokoh Yahudi ini mendatangi suku Gathafan. Dalam pertemuan dengan tokoh Gathafan mereka mencapai dua kesepakatan :
1. Suku Gathafan bersedia mengirim pasukan sebanyak-banyak untuk bergabung dengan pasukan sekutu menyerang kaum Muslimin.
2. Sebagai imbalannya, kaum Yahudi akan menyerahkan hasil panen kurma Khaibar kepada suku Gathafan selama setahun penuh.

KEKUATAN PASUKAN
Berkat kegigihan para tokoh Yahudi Bani Nadhir dan Wa'il menggalang dukungan, akhirnya sebuah pasukan sekutu berkekutan sangat besar pun terbentuk. Ibnu Ishâq[3] menyebutkan bahwa jumlah pasukan sekutu adalah sepuluh ribu pasukan yang terdiri dari kaum musyrik Quraisy, qabilah Gathafan beserta qabilah-qabilah yang ikut bergabung bersama mereka. Oleh karena pasukan orang-orang kafir ini terdiri dari berbagai kelompok, maka peperangan ini disebut juga dengan perang Ahzâb (beberapa kelompok). Komando tertinggi dipegang oleh Abu sufyan.

Sementara pasukan kaum Muslimin hanya berjumlah tiga ribu saja dan bisa jadi jumlah musuh melebihi jumlah seluruh Madinah kala itu.

PERSIAPAN KAUM MUSLIMIN DI MADINAH
Ketika berita persekongkolan dan rencana busuk orang-orang kafir ini sampai ke Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung meresponnya dengan melakukan persiapan. Diantara persiapan itu adalah :

1. Musyawarah
Diantara kebiasaan Rasûlullâh yaitu mengajak para sahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah tentang hal-hal yang tidak ada wahyunya dari Allâh, baik berkaitan dengan peperangan atau yang semisalnya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapat para sahabat tentang strategi dalam perang ini. Salah seorang shahabat yang bernama Salmân al-Farisy mengusulkan agar kaum Muslimin menggali khandaq (parit) di sebelah utara Madinah yang merupakan satu satunya jalan terbuka yang bisa di lewati musuh apabila ingin memasuki kota Madinah.[6] Ide brilian Salman Radhiyallahu anhu ini disetujui oleh Rasûlullâh dan para sahabat lainnya. Setelah mencapai kata mufakat, akhirnya penggalian khandaq (parit) pun dimulai. Inilah penggalian parit pertama dalam sejarah Arab.

2. Menggali Parit
Setelah sepakat untuk menggali parit sesuai usul Salmân al-Fârisiy, kaum Muslimin pun bergegas untuk melaksanakannya. Parit yang diharapkan bisa memisahkan kaum Muslimin dengan musuh ini terus dikebut pengerjaannya supaya bisa selesai sebelum musuh datang ke Madinah. Para Ulama ahli sirah berbeda pendapat tentang waktu yang dibutuhkan untuk penggalian parit ini, berkisar antara enam sampai dua puluh empat hari.

Para shahabat sangat bersemangat dan antusias menggali parit karena Rasûlullâh juga ikut bersama mereka dan tidak jarang mereka meminta bantuan Rasûlullâh untuk memecahkan batu batu besar yang tidak sanggup mereka pecahkan. Untuk memompa semangat para shahabat, Rasûlullâh berkali kali melantunkan sya'ir yang kemudian dijawab oleh para shahabat. Seorang shahabat al-Barrâ` bin Azib bercerita, "Pada waktu perang Ahzâb atau Khandaq, aku melihat Rasûlullâh mengangkat tanah parit, sehingga debu-debu itu menutupi kulit beliau dari (pandangan) ku. Saat itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersenandung dengan bait-bait syair yang pernah diucapkan oleh Ibnu Rawâhah, sambil mengangkat tanah beliau bersenandung :

اللّهُمَّ لَوْلَا أنت مَا اهْتَدَيْنَا      وَلَا تَصَدّقْنَا وَلَا صَلّيْنَا
فَأَنْزِلَنْ   سَكِينَةً    عَلَيْنَا          وَثَبّتْ الْأَقْدَامَ إنْ لَاقَيْنَا
إنّا  الألى قد  بَغَوْا  عَلَيْنَا        وَإِنْ أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا

Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk,
tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan shalat,
Maka turunkanlah ketenangan kepada kami,
serta kokohkan kaki-kaki kami apabila bertemu dengan musuh.
Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berlaku semena-mena kepada kami,
apabila mereka menghendaki fitnah, maka kami menolaknya.'

Beliau menyenandungkan bait-bait itu sambil mengeraskan suara diakhir."

Mendengar Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melantunkan bait syair, para shahabatpun tidak mau tertinggal. Mereka mengatakan:

نَحْنُ الَّذِيْنَ بَايَعُوْا مُحَمَّداً عَلَى اْلِإسَلاَمِ مَابَقَيْنَا أَبَداً

Kami adalah orang-orang yang telah berbaiat kepada Muhammad
untuk setia kepada Islam selama kami masih hidup

Ucapan ini di jawab oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan do’a :

اللَّهُمَّ إِنَّهُ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُ الآخِرَةِ فَبَارِكْ فِي الأَنْصَارِ وَ الْمُهَاجِرَةِ

Ya, Allah sesungguhnya tiada kebaikan kecuali kebaikan akhirat maka berikanlah berkah kepada kaum Anshâr dan Muhajirin

Demikianlah semangat kaum Muslimin ketika menggali parit yang bisa diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat untuk ukuran saat itu, dengan berbagai kendalaseperti kekurangan peralatan, kurang makanan, cuaca Madinah yang sangat dingin ditambah lagi dengan sikap orang-orang munafiq yang terus berusaha mengikis semangat para shahabat. Meski demikian, semangat yang didasari iman yang kuat membuat mereka tidak pernah surut membela agama Allâh dan Rasul-Nya.

Pasca penggalian parit Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar para wanita dan anak kecil ditempatkan di salah satu benteng terkuat di Madinah milik Bani Haritsah  dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk Abdullah bin Ummi maktum Radhiyallahu anhu untuk menggantikannya di Madinah selama peperangan.

Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai menyusun setrategi untuk menghadapi musuh. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh para shahabat untuk membelakangi gunung Sila', menghadap khandaq yang sekaligus sebagai penghalang mereka dari pasukan sekutu.

Bukti Kenabian Dalam Perang Khandaq
-----------------------------------------
Di saat pengagalian parit inilah terlihat beberapa mu'jizat Rasûlullâh yang menguatkan dan membuktikan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar utusan Allâh sebagai nabi dan rasul. Diantara bukti-bukti tersebut:

1. HIDANGAN JABIR RADHIYALLAHU ANHU
Jabir Radhiyallahu anhu bercerita, "Ketika kami menggali parit pada peristiwa khandaq, sebongkah batu yang sangat keras menghalangi kami, lalu para sahabat menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan, 'Batu yang sangat keras ini menghalangi kami menggali parit,' Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Aku sendiri yang akan turun." Kemudian beliau berdiri (dalam parit), sementara perut beliau diganjal dengan batu (karena lapar). Tiga hari (terakhir) kami (para shahabat) belum merasakan makanan, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kampak dan memukul batu tersebut hingga pecah berkeping-keping. Lalu aku berkata, "Wahai Rasûlullâh, izinkanlah aku pulang ke rumah." Sesampaiku di rumah, aku bercerita kepada isteriku, "Aku tidak tega melihat kondisi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , apakah kamu memiliki sesuatu (makanan) ?" Isteriku menjawab, "Aku memiliki gandum dan anak kambing." Kemudian ia meyembelih anak kambing tersebut dan membuat adonan gandum hingga menjadi makanan dalam tungku. Ketika adonan makanan tersebut hampir matang dalam bejana yang masih di atas tungku, aku menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku berkata, "Wahai Rasûlullâh, aku memiliki sedikit makanan. Datanglah ke rumahku dan ajaklah satu atau dua orang saja." Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, "Untuk berapa orang ?" Lalu aku beritahukan kepada beliau. Beliau bersabda, "lebih banyak yang datang lebih baik." Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, "Katakan kepada isterimu, jangan ia angkat bejananya dan adonan roti dari tungku api sampai aku datang." Setelah itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Bangunlah kalian semua." Kaum Muhâjirin dan Anshâr yang mendengar perintah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu langsung berdiri dan berangkat. Jabir Radhiyallahu anhu menemui isterinya (dengan cemas), dia mengatakan, "Celaka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang bersama kaum Muhâjirîn dan Anshâr serta orang-orang yang bersama mereka." Isteri Jabir bertanya, "Apa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bertanya (tentang jumlah makanan kita) ?" Jâbir Radhiyallahu anhu menjawab, "Ya. " Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, "Masuklah dan jangan berdesak-desakan." Kemudian Rasûlullâh mencuil-cuil roti dan ia tambahkan dengan daging, dan ia tutup bejana dan tungku api. Selanjutnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mendekatkannya kepada para sahabatnya. Lantas beliau mengambil kembali bejana itu dan terus-menerus beliau lakukan itu hingga semua sahabat merasa kenyang dan makanan masih tersisa. Setelah itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepada istri Jabir Radhiyallahu anhu), "Sekarang kamu makanlah ! Dan hadiahkanlah kepada orang lain, karena masih banyak orang yang kelaparan."

2. KABAR PENAKLUKAN KERAJAAN-KERAJAAN BESAR
Ketika para sahabat mendapatkan batu besar yang tidak bisa dipecahkan, maka Rasûlullâh mulai memukul batu tersebut. Beliau memulainya dengan membaca, "Bismillah." Lalu memukul dan berhasil menghancurkan sepertiganya dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, "Allâhu akbar ! aku telah di beri kunci-kunci Syam. Demi Allâh, sekarang saya melihat istana yang merah." Beliau melanjutkan dengan pukulan kedua. Kali ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berhasil menghancurkan sepertiga berikutnya dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, "Allâhu akbar ! aku telah di beri kunci-kunci Paris. Demi Allâh ! Saya melihat istananya yang putih." Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan dengan pukulan ketiga dan akhirnya batu yang tersisa berhasil dipecahkan. Setelah pukulan ketiga, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, "Allâhu akbar ! aku telah di beri kunci-kunci Yaman. Demi Allâh aku melihat pintu-pintu Shan'a dari tempatku ini."

SIKAP KAUM MUNAFIQIN
1. Mengingkari janji Allâh dan Rasul-nya
Kaum Muslimin mengimani dan membenarkan berita Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengabarkan tentang hal-hal yang akan terjadi, termasuk kabar tentang beberapa penaklukan. Sikap kaum Muslimin ini sesuai dengan firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur'ân.

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

"Dan tatkala kaum Mukminin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, "Inilah yang dijanjikan Allâh dan Rasûl-Nya kepada kita." Dan benarlah Allâh dan Rasûl-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. [al-Ahzâb/33:22]

Sikap ini bertolak belakang dengan sikap orang-orang munafiq yang menganggap janji itu sebagai tipu daya belaka. Allah wa Jalla berfirman:

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا

Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafiq dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, "Allâh dan rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya." [al-Ahzâb/33:22]

2. Mencari-cari alasan supaya bisa tidak ikut berperang dan memendam keinginan untuk mengacaukan barisan kaum Muslimin
Inilah diantara sikap orang-orang munafiq saat kaum Muslimin berhadapan dengan musuh yang berlipat ganda jumlah dan kekuatannya. Tidak hanya itu, mereka juga berusaha melemahkan semangat kaum Muslimin dari dalam.Namun, Allâh Subhanahu wa ta'ala menyelamatkan kaum Muslimin dari akibat buruk ulah mereka dengan menyebutkan niat buruk mereka dalam al-Qur'ân.

KEINGINAN RASULULLAH BERDAMAI DENGAN KABILAH GATHAFAN
Setelah penggalian parit tuntas, tidak lama setelah itu, pasukan gabungan yang berjumlah sepuluh ribu pasukan tiba di kota Madinah, sementara kaum Muslimin sudah bersiap di seberang parit.

Melihat pasukan musuh dalam jumlah yang sangat besar dan kuat, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat untuk memperkecil kekuatan musuh agar bisa mengurangi beban kaum Muslimin akibat perang. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat mengadakan perdamaian dengan kabilah Gathafan dengan syarat sebagai berikut:

1. Qabilah Gathafan harus menarik kembali pasukannya dari medan perang
2. Sebagai imbalannya, Rasûlullâh menyerahkan sepertiga hasil panen kaum Anshâr.

Namun keinginan ini dibatalkan setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar pendapat dua tokoh Anshâr yaitu Sa'ad bin Muâ'z dan Sa'ad bin Ubâdah yang tidak menyetujuinya. Keduanya menolak setelah tahu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa niat perdamaian ini semata mata keinginan Rasûlullâh dan bukan wahyu dari Allâh Azza wa Jalla.

Pertempuran Khandaq

Ketika pasukan sekutu tiba di Madinah, mereka dikagetkan dengan parit yang menghalangi jalan mereka mema  suki Madinah untuk menyerang kaum Muslimin. Berbagai upaya, mereka lakukan untuk menerobos parit, namun selalu gagal, karena diseberang sana ada kaum Muslimin yang siap menghujani mereka dengan anak panah. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengepung kota Madinah. Pengepungan ini berlangsung selama satu bulan. Selama pengepungan tidak ada kontak senjata, yang ada hanya saling lempar dengan panah.

Karena melihat tidak ada kepastian, beberapa prajurit berkuda dari Quraisy seperti Amru bin Abdi Wudd, Ikrimah bin Abi Jahal, Hubairah bin Abi Wahab dan Dhirar bin al-Khathab berusaha menerobos parit dan mereka berhasil, kemudian terjadilah perang tanding antara Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu dengan Amru bin Abdi Wudd dan Ali berhasil membunuhnya, sementara yang lain melarikan diri dan kembali ke pasukan Quraisy. Disebutkan juga dalam perang tanding ini, Zubair Radhiyallahu anhu berhasil membunuh Naufal bin Abdillah.

Walaupun peperangan khandaq tanpa pertempuran langsung akan tetapi sangat menguras perhatian Rasûlullâh dan kaum Muslimin, sehingga beliau dan para shahabat tersibukkan dari shalat Ashar dan melaksanakannya setelah matahari terbenam.

KISAH NUA’IM BIN MAS’UD DAN KHUZAIFAH BIN AL-YAMAN
Ada beberapa kisah menarik dalam peperangan ini yang bisa kita ambil pelajaran darinya, misalnya :

1. Kisah Nu'aim bin Mas'ûd :
Beliau berasal dari qabilah Gathafan yang datang pada saat perang khandaq kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyatakan diri masuk Islam kemudian menawarkan diri untuk melakukan apa yang di perintahkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Nua'im,"Engkau hanyalah salah seorang dari kami, tapi berusahalah menolong kami semampumu, sesungguhnya perang adalah tipu daya."[21]

Berita keislaman Nu'aim Radhiyallahu anhu belum terdengar oleh orang-orang kafir sehingga beliau memanfaatkan momen ini untuk mengadu domba Quraisy dengan bani Quraizhah. Dan sejak saat itu, kedua golongan ini saling mencurigai dan saling meragukan.

2. Kisah Hudzaifah bin al-Yaman
Beliau Radhiyallahu anhu menceritakan sendiri pengalamannya ketika diperintah oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencari informasi tentang musuh. Hudzaifah Radhiyallahu anhu mengatakan :
"Suatu malam dalam perang Ahzâb, ketika angin bertiup kencang dan udara dingin menusuk tulang, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Adakah orang yang sanggup mencarikan berita tentang musuh untukku ? Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikannya bersamaku di surga."(Tiga kali Rasûlullâh mengulangi ucapan tersebut) dan para shahabat terdiam dan tidak ada satupun yang menjawab. Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Wahai Hudzaifah, berdirilah, cari dan beritahukanlah kami kabar mengenai musuh!" Aku tidak punya pilihan, aku harus berdiri, karena Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas memanggil namaku. Beliau bersabda, "Pergi dan carilah kabar mengenai musuh, dan jangan kamu mengagetkan mereka tentang diriku." Tatkala aku mulai beranjak dari sisi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , seakan-akan aku berjalan dalam udara hangat (tidak kedinginan dan tidak berangin seperti yang dirasakan oleh orang lain-red), sampai aku berhasil mendekati mereka, lantas aku melihat Abu Sufyân yang sedang menghangatkan badannya dengan api, maka aku langsung menaruh anak panah pada busurnya dan membidikkannya kearah Abu Sufyan, sekiranya aku tidak ingat pesan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , 'Jangan kamu mengagetkan mereka dengan diriku.' niscaya aku telah melepaskan anak panahku dan mesti akan mengenai sasaran. Lalu aku kembali dengan berjalan kaki dalam kehangatan. Kemudian aku menemui Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkan kondisi musuh. Setelah itu aku pergi, tiba-tiba aku mulai merasakan kedinginan, lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelimutiku dengan kain burdah yang biasa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pakai shalat , kemudian aku tertidur sampai pagi. Keesokan harinya, beliau bersabda, "Bangun, wahai orang yang banyak tidur."

ALLAH MENOLONG RASUL-NYA DAN KAUM MUSLIMIN
Sebulan sudah lamanya, pasukan sekutu mengepung kaum Muslimin, akhirnya pertolongan Allâh Azza wa Jalla yang dinanti-nanti kehadirannya datang pula. Bentuk pertolongan Allâh Azza wa Jalla diabadikan dalam al-Qur'ân :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

"Wahai orang orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allâh (yang telah di karuniakan) kepada kalian ketika datang kepada kalian tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan pasukan yang tidak dapat kalian melihatnya. Dan Allâh maha melihat apa yang kamu kerjakan". [al-Ahzâb/33:9]

Angin topan yang dikirim oleh Allâh Azza wa Jalla itu, benar-benar telah memporak-porandakan dan berhasilkan melumpuhkan pasukan musuh sehingga Abu Sufyân mengajak pasukannya untuk pulang dan meninggalkan kota Madinah.

Demikianlah akhir kisah pasukan sekutu yang sangat besar jumlahnya dan kuat. Mereka tak memiliki kekuatan sedikitpun tatkala berhadapan dengan Allâh Azza wa Jalla yang Maha kuat dan perkasa yang di tangan-Nya segalan urusan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا ۚ وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا

"Dan Allâh menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, karena mereka (juga) tidak memperoleh keuntungan apa pun. Cukuplah Allâh (yang menolong) menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan.Dan Allâh Maha Kuat, Maha Perkasa." [al-Ahzâb/33:25]

Kemenangan yang diperoleh kaum Muslimin itu merupakan jawaban Allâh Azza wa Jalla terhadap permohonan Rasul-Nya yang berdo'a :

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيعَ الْحِسَابِ اهْزِمْ الْأَحْزَابَ اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

"Ya Allâh, Rabb yang telah menurunkan kitab (al-Qur'ân) yang Maha cepat hisab-Nya, kalahkanlah barisan ahzâb (golongan musyrikin). Kalahkanlah dan guncangkanlah mereka."

Setelah perang ini Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam merubah strategi perang dari strategi bertahan ke strategi menyerang. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Mulai sekarang, kita akan memerangi mereka bukan mereka yang memerangi kita,dan kita akan menyerang mereka."

Dalam Perang Khandaq ini, meski berlangsung cukup lama, namun jumlah korban dari kedua belah pihak tidak banyak. Dari pihak kaum Muslimin yang mati syahid berjumlah delapan orang, diantaranya Sa'ad bin Muaz yang memiliki peran dan pengorbanan yang sangat besar untuk membela Islam. Beliau Radhiyallahu anhu meninggal setelah perang Bani Quraizhah. Beliau Radhiyallahu anhu meninggal karena luka parah yang dialaminya dalam perang Khandaq, sementara dari pihak musuh hanya empat orang saja yang menjadi korban.

PELAJARAN PENTING
1. Kedudukan shalat di hati Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat, serta bolehnya memohonkan keburukan untuk orang kafir yang menyebabkan kaum Muslimin terlalaikan dari ibadah.

2. Allâh Azza wa Jalla akan memberikan pertolongan atau kemenangan, jika perantara-perantara kemenangan yang telah ditetapkan Allâh telah dilaksanakan, bukan semata-mata di tentukan oleh jumlah pasukan yang sangat banyak atau perbekalan dan persenjataan lengkap.

3. Seorang pemimpin dituntut untuk merubah strategi dalam menghadapi musuh sesuai dengan maslahat dan mafsadahnya, sebagaimana Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merubah strategi bertahan ke stratetegi menyerang.

Shared from Almanhaj.or.id for android http://bit.ly/Almanhaj

Selengkapnya..

KISAH-KISAH HEROIK DALAM PERANG UHUD

Perang Uhud terus berkobar. Kaum kuffâr Quraisy seolah mendapatkan semangat baru. Kondisi ini jelas berbeda dengan kondisi kaum Muslimin, terutama setelah psywar yang dilancarkan kaum Quraisy. Mereka memunculkan berita bohong yaitu Rasûlullâh telah berhasil mereka bunuh, padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Psywar ini semakin memperparah dan melucuti semangat sebagian kaum Muslimin. sehingga sebagian dari mereka melarikan diri, sementara yang lain terus bertempur sampai akhirnya wafat sebagai syahîd. Shahabat yang pertama kali melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan masih hidup adalah Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu. Tak terbilang kegembiraan yang dirasakan Ka’ab Radhiyallahu anhu melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan masih hidup. Saking gembiranya, beliau Radhiyallahu anhu berteriak memberitahukan kondisi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih hidup. Beliau Radhiyallahu anhu tidak sadar kalau perbuatan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini akan sangat membahayakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena secara tidak langsung dia memberitahukan posisi Rasûlullâh kepada orang-orang musyrik. Menyadari hal ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat kepada Ka’ab Radhiyallahu anhu agar diam, supaya tidak diketahui pasukan Quraisy.

Meski sudah berusaha agar tidak diketahui musuh, namun akhirnya musuh tahu juga posisi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menumpahkan segala amarah dan kebenciaan mereka kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka semakin mendekati Rasulullah, kala itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sembilan shahabat (tujuh dari Anshâr dan dua dari muhâjirîn) yang ada disekitar beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ يَرُدُّهُمْ عَنَّا وَلَهُ الْجَنَّةُ أَوْ هُوَ رَفِيقِي فِي الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang mau menghalau mereka dari kita, maka dia akan mendapatkan surga atau menjadi temanku di surga ?

Mendengar ini, tujuh sahabat yang berasal dari Anshâr berusaha menghalau musuh dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , namun mereka tidak berhasil. Satu persatu diantara mereka berguguran sebagai syahîd sampai akhirnya habis. Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada dua shahabatnya yang masih tersisa :

مَا أَنْصَفْنَا أَصْحَابَنَا

Kita tidak berbuat adil kepada para shahabat kita.

Maksudnya, dua shahabat yang berasal dari muhâjirîn ini tidak adil karena tidak melibatkan diri ketika kaum Anshâr itu berjuang membela Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dua orang ini hanya membiarkan mereka berperang, sampai akhirnya mereka gugur semua.

KISAH-KISAH HEROIK
Tercatat dalam sejarah, beberapa kisah heroik dalam peristiwa perang Uhud, diantara kisah-kisah itu ada yang sudah dibawakan dalam edisi sebelumnya dan berikut ini adalah kisah-kisah lainnya :

1. Kisah Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu anhu
Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin terdesak, para shahabat yang menyadari bahaya yang sedang mengancam Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjuang habis-habisan demi menyelamatkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tercatat dalam sejarah dengan tinta emas, perjuangan yang dilakukan Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu anhu . Beliau Radhiyallahu anhu bertempur mempertaruhkan nyawa sampai telapak tangan yang beliau Radhiyallahu anhu pergunakan untuk membela Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa difungsikan lagi. Thalhah inilah yang menyangga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya bisa naik ke bebatuan ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di kepung oleh pasukan Quraisy. Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Thalhah pasti masuk surga. Dalam riwayat lain, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى شَهِيْدٍ يَمْشِي عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ الله

Barangsiapa yang ingin melihat syahîd (orang yang mati syahîd) yang masih berjalan di muka bumi maka hendaklah dia melihat Thalhah bin Ubaidillah.”

2. Kisah Sa’d bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhu
Shahabat lain yang tidak tertinggal membela Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Sa’d bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhu . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang mensuplay anak panah untuknya sambil bersabda, “Wahai Sa’d, ibu dan bapakku sebagai tebusan buatmu, panahilah (orang-orang kafir itu-red) !” Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikhususkan kepadanya ini mengobarkan semangat tempur beliau sehingga terus bertempur tanpa mengenal lelah. Kemampuan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang yang ahli memanah dipergunakan untuk membela dan melindungi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

3. Kisah Abu Thalhah al-Anshâri Radhiyallahu anhu
Abu Thalhah al-Anshâri Radhiyallahu anhu termasuk diantara shahabat yang posisinya dekat dengan Rasûlullâh disaat genting itu. Shahabat mulia yang nama aslinya adalah Zaid bin Sahl ini Radhiyallahu anhu juga seorang pemanah yang handal. Oleh karena itu, ketika ada seseorang yang lewat dengan membawa anah panah dengan wadahnya, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang itu untuk menyerahkannya ke Abu Thalhah. Beliau Radhiyallahu anhu terus berjuang demi menyelamatkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari bahaya. ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menantang bahaya karena ingin tahu keadaan musuh, Abu Thalhah Radhiyallahu anhu meminta kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengurungkan niat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan : “Demi bapak dan ibuku, janganlah engkau keluar untuk melihat musuh ! (jika engkau lakukan itu-red) engkau akan terkena panah musuh. Leherku (Jiwaku) sebagai tebusan jiwamu.” Dalam sebuah hadits, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Abu Thalhah Radhiyallahu anhu , “Susngguh suara Abu Thalhah di tengah pasukan itu lebih berat dari seratus pasukan bagi orang musyrik.”

Meskipun Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibela dan dilindungi mati-matian oleh beberapa shahabat, namun tetap saja beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tak luput dari serangan musuh. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menderita luka di wajah, bahkan menyebabkan gigi seri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam patah. Darah segar mengalir dari luka itu. Sambil mengusap darahnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagaimana mungkin suatu kaum yang melukai wajah nabi mereka akan beruntung, sementara nabi mereka menyeru mereka kepada Islam.” Lalu Allâh Azza wa Jalla menurunkan firmanNya :

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allâh menerima taubat mereka atau mengazdab mereka Karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. [Ali Imrân/3:128]

4. Kisah Abdullah bin Jahsy
Sebelum peperangan berkecamuk, Abdullah bin Jahsy mengatakan, “Sesungguhnya aku bersumpah untuk bertemu dengan musuh. Jika aku bertemu mereka, aku berharap mereka agar membunuhku kemudian melubangi perutku serta memutilasiku. Jika aku bertemu denganMu (ya Allâh) dan Engkau bertanya kepadaku, “Dalam rangka apa ini ?’ Maka aku akan menjawab, ‘Dalam (ragka membela agama)Mu.’ Ketika dia bertemu dengan para musuh Allâh Azza wa Jalla di medan tempur, dia terus bertempur melawan musuh-musuh Allâh itu, sampai akhirnya di akhir peperangan para shahabat mendapatinya dalam kondisi yang diharapkannya.

5. Amr bin al-Jamûh Radhiyallahu anhu
Amr bin al Jamûh Radhiyallahu anhu termasuk diantara para shahabat yang memiliki alasan yang dibenarkan syari’at untuk tidak ikut perang, karena beliau Radhiyallahu anhu pincang. Namun kondisi ini tidak mengurangi semangatnya untuk tetap iut berperang. Usaha anak-anaknya untuk menghalanginya pun tidak dipedulikannya. Akhirnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kerelaan anak-anak Amr bin al-Jamûh untuk membiarkannya ikut berjihad, kalau memang menginginkan mati syahîd. Amr Radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Bagaimana pendapatmu, jika aku meninggal hari ini, bisakah aku menginjak surga dengan kakiku yang pincang ini ?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” Kemudian Amr Radhiyallahu anhu mengatakan, “Demi Allâh yang telah mengutusmu dengan al-haq, insya Allâh, saya benar-benar akan menginjakkan kakiku ini di surga hari ini.” Kemudian beliau Radhiyallahu anhu terjun ke medan tempur sampai akhirnya keinginan beliau Radhiyallahu anhu tercapai.

6. Tsâbit bin Waqsy dan al Yamân
Kedua shahabat ini termasuk yang sudah berusia udzur, sehingga mereka diidzinkan untuk tidak ikut perang dan tinggal bersama kaum wanita dan anak-anak di Madînah. Namun kerinduan mereka terhadap mati syahîd membuat mereka enggan tinggal di Madînah. Keduanya menyusul kaum Muslimin dan terjun di medan tempur. Akhirnya, Tsâbit bin Waqsy gugur sebagai syahîd di tangan musuh-musuh Allâh Azza wa Jalla , sementara al Yamân ayahanda Hudzaifah Radhiyallahu anhu mati syahîd, dibunuh pasukan kaum Muslimin karena mereka mengira beliau Radhiyallahu anhu adalah musuh. Ketika perang telah usai, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak membayarkan diyat sebagai tebusan atas terbunuhnya al Yamân, namun putra beliau Radhiyallahu anhu Hudzaifah Radhiyallahu anhu enggan menerimanya dan menyedekahkannya untuk kepentiangan kaum Muslimin.

7. Hanzhalah bin ‘Aamir
Beliau adalah pengantin baru. Malam ketika panggilan perang di komandangkan, beliau Radhiyallahu anhu sedang bersama istri. Beliau Radhiyallahu anhu bergegas memenuhi panggilan tersebut tanpa sempat mandi junub terlebih dahulu. Ketika perang berkecamuk, beliau Radhiyallahu anhu maju berperang sampai akhirnya meninggal. Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat jenazah beliau Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, teman kalian ini sedang dimandikan oleh para malaikat.” Oleh karena itu, beliau digelari gasîlul malaaikah (orang yang dimandikan oleh para malaikat) atau al gasîl (orang yang dimandikan).

8. Amr bin Uqaisy Radhiyallahu anhu
Awalnya, beliau Radhiyallahu anhu termasuk orang yang sangat membenci Islam, sehingga meskipun semua kaumnya dari Bani Ashal sudah memeluk Islam, beliau Radhiyallahu anhu tetap dalam pendiriannya, tidak mau memeluk Islam. Ketika perang Uhud berkobar, dia mencari beberapa teman yang dikenalnya di tempat tinggal mereka, namun tidak dia tidak berhasil. karena para shahabat yang dicari semuanya ikut perang Uhud. Beliau Radhiyallahu anhu bergegas kembali ke rumah, mengenakan baju besinya lalu memacu kudanya ke arah bukit Uhud. Saat kaum Muslimin melihat kedatangannya, mereka serta merta menghalaunya, “Wahai Amr, menjauhlah dari kami!” Amr menjawab, “Aku telah beriman.” Beliau Radhiyallahu anhu terus maju ke medan tempur. Dalam pertempuran tersebut mengalami luka-luka. Ketika peperangan usai, para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengantarkannya ke rumah keluarganya dalam keadaan tubuh penuh luka. Sa’d bin Mu’adz mendatanginya dan mengatakan kepada saudarinya :

سَلِيهِ حَمِيَّةً لِقَوْمِكَ أَوْ غَضَبًا لَهُمْ أَمْ غَضَبًا لِلَّهِ فَقَالَ بَلْ غَضَبًا لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ

Tolong tanyakan kepadanya, (apakah dia melakukan ini) demi membela kaumnya, marah karena mereka ataukah marah karena Allâh Azza wa Jalla ? Amr menjawab, “Marah karena Allâh dan RasulNya.”

Akhirnya karena luka yang teramat parah, beliau Radhiyallahu anhu meninggal dan masuk surga, padahal beliau Radhiyallahu anhu belum pernah menunaikan shalat meskipun sekali.

SYUHADA UHUD

Dalam peperangan menegakkan kalimatulhaq ini, banyak dari kalangan sababat Nabi Radhiyallahu anhum yang mendapatkan anugerah syahâdah. Menurut perhitungan ulama sirah, Ibnu Ishâq rahimahullah, tercatat 65 sahabat Rasulullah telah menemui syahid.

Berikut ini, sebagian nama-nama sahabat Rasulullah Radhiyallahu anhum dari kalangan Muhajirin yang menenui syahid tersebut kami ulas secara ringkas. Diadaptasi dari risalah Syuhadâ Uhud Alladzîna Dzakarahumullahu Ibnu Ishâq fi Maghâzihi, karya Dr. Muhammad bin 'Abdillah bin Ghabbân ash-Shubhi, Majallatul-Jâmi'atil-Islâmiyyah, Madinah, KSA, Edisi 124, Th. XXXVI, 1424 H. Diterjemahkan oleh M. Rijal dan M. 'Ashim. Selamat menyimak.

HAMZAH BIN 'ABDUL-MUTHTHALIB RADHIYALLAHU ANHU
Siapakah beliau ini? Lengkapnya, ia bernama Hamzah Abu ‘Amârah bin 'Abdul-Muththalib bin Hâsyim bin 'Abdi Manâf al-Quraisyi al-Hâsyimi. Ibunya bernama Halah binti Wuhaib bin 'Abdi Manaf bin Zuhrah. Beliau merupakan paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sekaligus saudara sepersusuan, serta kerabat dekatnya dari jalur ibu. Dilahirkan dua tahun sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Memeluk Islam pada tahun kedelapan dari kenabian atau pada tahun keenam kenabian setelah nabi memasuki Darul Arqâm , berdasarkan riwayat lain.

Terkenal dengan gelar Asadullah (singa Allah) dan sayyidusy-syuhada’ (penghulu para syuhada). Di Perang Badr, beliau berhasil menghempaskan beberapa tokoh musyrikin. Seperti, Syaibah bin Rabî’ah, Thu’aimah bin ‘Adi, dan ‘Utbah bin Rabî’ah. Begitu pula pada perang Uhud, beliau berhasil menewaskan 30 orang lebih, sebelum akhirnya gugur di tangan Wahsyi, budak milik Jubair bin Muth’im.

Di dalam kitab Shahîh-nya[1], Imam al-Bukhari menyebutkan kisah tentang kesyahidan Hamzah Radhiyallahu anhu secara rinci, sebagaimana yang diriwayatkan oleh sang pembunuhnya sendiri, yang akhirnya masuk Islam.

Wahsyi bertutur:
Sesungguhnya Hamzah telah membunuh Thu’aimah bin ‘Adi bin al-Khiyar (paman Jubair bin Muth’im) di perang Badr. Majikanku, Jubair bin Muth’im menawariku : "Jika engkau sanggup membunuh Hamzah, maka engkau merdeka”.

Wahsy melanjutkan kisahnya:
Tatkala orang-orang bergerak pada tahun ‘Înîn (peristiwa perang Uhud),[2] aku pergi bersama mereka untuk berperang. Ketika mereka telah berbaris rapi, siap memulai peperangan, majulah Siba` (dari barisan kaum musyrikin, pent), seraya sesumbar menyerukan tantangan: “Adakah yang ingin beradu tanding denganku?”

Maka keluarlah Hamzah dan menyahut: “Wahai Siba`, anak wanita pemotong kelentit! Apakah engkau bersikeras menantang Allah dan Rasul-Nya?” Dengan gesit, Hamzah berhasil menghabisinya.

(Sementara) aku bersembunyi mengintai Hamzah di balik batu besar. Begitu jangkauan mata tombakku berada pada posisi yang tepat, maka aku lemparkan ke arah perutnya bagian bawah hingga tembus melalui kedua pangkal pahanya. Itulah saat kematiannya.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, dan kemudian muncul Musailamah al-Kadzdzâb, Wahsyi berkata: "Aku akan pergi untuk mencari Musailamah. Semoga aku bisa membunuhnya sebagai tebusanku atas Hamzah,” dan ia pun pergi ikut mencari Musailamah bersama kaum muslimin lainnya.
Tatkala menemukan Musailamah, maka aku lemparkan tombakku tepat mengenai dada Musailamah hingga tembus di antara kedua pundaknya. Bersamaan dengan itu, seorang Anshar ikut memukulkan pedangnya di kepala Musailamah".

Ketika itu, jasad Hamzah Radhiyallahu anhu sudah dalam keadaan tercincang. Hindun binti ‘Utbah telah membelah perutnya, lalu mengeluarkan hatinya dan mengunyahnya, dan memuntahkannya kembali.

Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah meriwayatkan, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan Hamzah yang telah syahid. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menitikkan air mata. Dan ketika melihatnya menjadi korban kebiadaban, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menarik napasnya. Tidak ada pemandangan yang lebih menyakitkan hati beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam daripadanya. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan ucapannya: “Semoga Allah merahmatimu, wahai Paman. Padahal dahulu engkau orang yang menyambung tali silaturahim, dan banyak melakukan kebajikan”.

Hamzah Radhiyallahu anhu , sang Singa Allah ini dikuburkan bersama 'Abdullah bin Jahsy dalam satu liang lahat.

'ABDULLAH BIN JAHSY RADHIYALLAHU ANHU
'Abdullah bin Jahsyi termasuk sahabat yang pertama-tama masuk Islam dan berhijrah ke Habasyah. Perang Badr juga beliau ikuti. Ya, dialah Abu Muhammad, 'Abdullah bin Jahsy al-Asadi. Dialah yang pertama kali mendapat gelar amir dalam Islam. Yaitu ketika diutus oleh Rasulullah dalam suatu ekspedisi peperangan. Ibunya bernama Umaimah binti 'Abdul-Muththalib bin Hâsyim bin 'Abdi Manâf bin Qushay.

Kisahnya dalam Perang Uhud, tergambar pada doa yang dilantunkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diceritakan, tatkala Perang Uhud berkecamuk, 'Abdullah bin Jahsyi berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaagar mendapatkan mati syahid, dan Allah mengabulkan permohonannya.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwa 'Abdullah bin Jahsyi Radhiyallahu anhuberkata kepada Sa’ad bin Abi Waqqash z : “Tidakkah kita berdoa”? Maka, Sa’ad berkata: "Maka kami menyendiri di suatu tempat,” lantas Sa’ad mulai berdoa: “Wahai, Rabbku! Apabila besok kami bertemu musuh, maka pertemukanlah aku dengan seorang yang paling kuat, sehingga aku memeranginya karena-Mu, kemudian berikanlah aku kemenangan atasnya hingga aku bisa membunuhnya dan mengambil hartanya".

“Abdullah bin Jahsyi mengamininya, kemudian ia berdoa, 'Ya, Allah! Berilah kepadaku seorang yang paling kuat, yang aku perangi karena-Mu, sampai ia bisa membunuhku, kemudian memotong hidung dan telingaku, sehingga jika aku menjumpai-Mu, maka aku katakan, ini semua untuk membela-Mu dan membela Rasul-Mu. Lalu Engkau mengatakan, kamu benar', Sa’ad melanjutkan kisahnya: “Sungguh doanya lebih baik dari doaku, dan aku telah melihatnya pada akhir siang, keadaan hidung dan telingannya tergantung di seutas benang”.

Beliau dibunuh oleh Abul-Hakam bin al-Akhnas bin Syarîq. Setelah itu dikuburkan bersama Hamzah dalam satu liang lahat. Beliau mendapatkan syahid dalam usia 40 tahun beberapa bulan.

MUSH’AB BIN ‘UMAIR RADHIYALLAHU ANHU
Abu Muhammad Mush’ab bin ‘Umair bin Hâsyim bin 'Abdi Manâf bin 'Abdid-Dâr bin Qushay Isterinya bernama Hamnah binti Jahsyi. Beliau termasuk dari kalangan sahabat Nabi yang senior dan banyak memiliki keutamaan. Seorang pemuda yang sangat tampan di kota Mekkah. Kedua orang tuanya sangat mencintainya. Ibunya yang kaya raya memberinya pakaian yang paling bagus dan lembut. Dia juga orang yang paling harum dan wangi di Mekkah, mengenakan sandal hadhrami (dari Yaman).

Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam mengingatnya, beliau mengatakan: “Saya tidak pernah melihat seseorang di Mekkah yang paling bagus juntaian rambutnya, tidak pula yang lebih halus pakaiannya, serta lebih banyak mendapatkan kemewahan hidup daripada Mush’ab bin ‘Umair”.

Mush’ab bin ‘Umair masuk Islam ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumah al-Arqam. Dia menyembunyikan keislamannya dari keluarga dan kaumnya, tetapi kemudian diketahui oleh ‘Utsmân bin Thalhah. Lalu ia pun memberitahukan hal itu kepada keluarganya. Mereka mempercayainya sehingga menyebabkan Mush’ab tertahan dan terkekang oleh keluarganya. Hingga suatu hari Mush'ab berhasil lolos dan pergi berhijrah ke Habasyah bersama para sahabat yang lain. Beberapa saat kemudian ia kembali ke Mekkah lalu hijrah ke Madinah.

Seperti di Perang Badr, pada Perang Uhud ini, beliaulah orang yang membawa bendera kaum Muslimin di bawah komando Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam . Syahidnya di Perang Uhud karena terbunuh oleh Ibnu Qami’ah al-Laitsi yang menyangka Mush'ab Radhiyallahu anhu sebagai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam , dalam usia 40 tahun. Sehingga Ibnu Qami'ah lantas menemui orang-orang Quraisy sambil berseru: "Aku telah membunuh Muhammad".

Begitu Mush'ab terbunuh, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam memberikan bendera kepada ‘Ali bin Abi Thalib hingga akhir peperangan. Ketika peperangan telah usai, Rasulullah mendapati Mush'ab yang sudah tidak bernyawa itu dengan pakaian yang ia gunakan, ternyata tidak bisa menutupi seluruh tubuhnya. Jika kepalanya ditutup, maka nampak kedua kakinya. Sebaliknya, jika kedua kakinya ditutup, maka akan nampak kepalanya. Sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar bagian kepalanya ditutup dengan pakaiannya, dan untuk kakinya dengan idzkhir (semacam rumput). Setelah itu Sahabat Mush'ab Radhiyallahu anhu dimakamkan.

Sekembalinya Rasulullah dan para sahabat dari peperangan, Hamnah Radhiyallahu anha, isteri Mush’ab menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengabarkan kematian saudaranya, 'Abdullah bin Jahsyi Radhiyallahu anhu. Beliau ber-istirja` dan meminta ampun kepada Allah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam pun mengabarkan kematian pamannya dari jalur ibu, yaitu Hamzah bin 'Abdul-Muththalib. Wanita itu pun kembali ber-istirja` dan memohon ampun kepada Allah.

Akan tetapi, tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam mengabarkan kematian Mush’ab bin ‘Umair, isterinya berteriak histeris. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam bersabda,"Sesungguhnya, seorang suami itu memiliki tempat tersendiri dalam hati isterinya. Dia terlihat tegar tatkala mendengar kematian paman dan saudaranya. Akan tetapi, dia akan berteriak histeris terhadap suaminya”.

SYAMMÂS BIN ‘UTSMÂN RADHIYALLAHU ANHU
Syammâs bin ‘Utsmân bin asy-Syarîd bin Harami al-Qurasyi al-Makhzûmi. Dia berasal dari Bani ‘Amir bin Makhzum. Nama aslinya ialah ‘Utsmân. Wajahnya sangat tampan. Oleh karena itu, beliau dijuluki Syammâs. Ibunya bernama Shafiyah binti Rabi’ah bin 'Abdi Syams.

Beliau masuk ke dalam barisan kaum Muslimin pada awal-awal munculnya Islam. Termasuk salah satu dari sahabat yang berhijrah ke Habasyah dan ikut serta dalam Perang Badr, dan menemui syahid di Perang Uhud dalam usia 34 tahun dan tidak memiliki keturunan. Beliau z dibunuh oleh Ubay bin Khalaf al-Jumahi.

Ketika terjadi Perang Uhud, beliau z menjadikan tubuhnya sebagai perisai dan pelindung bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam . Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam mengatakan: “Ketika itu, tidaklah ia mirip kecuali seperti tameng". Dalam riwayat lain ditambahkan, "tidaklah ada serangan yang datang dari sisi manapun, melainkan ia membentengi diriku dengan dirinya sendiri”.

Dalam peperangan itu, setiap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam melemparkan pandangan ke kanan dan ke kiri, selalu melihat Syammâs di depan beliau, membela dengan pedangnya. Tatkala Rasulullah pingsan, Syammâs menjadikan dirinya sebagai pelindung Rasulullah, hingga akhirnya sahabat ini sekarat.

Tatkala perang usai, ia dibawa ke kota Madinah. Masih nampak sisa-sisa kehidupan pada dirinya. Maka beliau pun kemudian dirawat tempat ‘Aisyah. Sehingga Ummu Salamah berkata: “Mengapa dia ditempatkan selain di tempatku, padahal ia putra pamanku?"

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam bersabda kepada para sahabat: “Bawalah ia ke tempat Ummu Salamah!” Lalu dibawalah sahabat Syammâs Radhiyallahu anhu ke tempat Ummu Salamah Radhiyallahu anhu. Akhirnya, beliau pun meninggal dunia di tempat Ummu Salamah. Kemudian Nabi memerintahkan agar Syammâs bin ‘Utsman Radhiyallahu anhu dibawa kembali ke bukit Uhud untuk dikuburkan di sana.

Syuhada Perang Uhud dari Kalangan Kaum Anshar
Dari Suku Aus.
1. 'Amr bin Mu'âdz bin an-Nu'mân Radhiyallahu anhu .
2. Al-Hârits bin Anas bin Râfi' Radhiyallahu anhu .
3. 'Amârah bin Ziyâd bin as-Sakan Radhiyallahu anhu .
4. Salamah bin Tsâbit bin Waqsy Radhiyallahu anhu .
5. 'Amr bin Tsâbit bin Waqsy Radhiyallahu anhu .
6. Tsâbit bin Waqsy Radhiyallahu anhu .
7. Rifâ'ah bin Waqsy Radhiyallahu anhu .
8. Husail bin Jâbir, ayah Hudzaifah, yang dikenal dengan al-Yamân Radhiyallahu anhu .
9. Shaifi bin Qaizhi Radhiyallahu anhu .
10. Hubâb bin Qaizhi Radhiyallahu anhu .
11. 'Abbâs bin Sahl Radhiyallahu anhu .
12. al Hârits bin Aus bin Mu'âdz Radhiyallahu anhu .
13. Iyâs bin Aus bin 'Atîk Radhiyallahu anhu .
14. 'Ubaid bin at Taiyyihân Radhiyallahu anhu .
15. Hubaib bin Yazîd bin Taim Radhiyallahu anhu .
16. Yazîd bin Hathib bin Umayyah bin Râfi' Radhiyallahu anhu .
17. Abu Sufyân bin al Harits bin Qais bin Zaid Radhiyallahu anhu .
18. Hanzhalah bin Abi 'Âmir (al-Ghasîl) Radhiyallahu anhu .
19. Unais bin Qatadah Radhiyallahu anhu .
20. Abu Hayyah Radhiyallahu anhu , saudara seibu Sa'ad bin Khaitsamah Radhiyallahu anhu .
21. 'Abdullah bin Jubair bin an-Nu'mân Radhiyallahu anhu (komandan pasukan pemanah).
22. Khaitsamah Abu Sa'ad bin Khaitsamah Radhiyallahu anhu .
23. 'Abdullah bin Salamah Radhiyallahu anhu .
24. Subai' bin Hâthib bin al Hârits bin Qais bin Haisyah Radhiyallahu anhu .

Dari Suku Khazraj.
1. 'Amr bin Qais Radhiyallahu anhu .
2. Qais bin 'Amr Radhiyallahu anhu .
3. Tsâbit bin 'Amr bin Zaid Radhiyallahu anhu .
4. Amir bin Mukhallad Radhiyallahu anhu .
5. Abu Hubairah bin al-Hârits bin 'Alqamah Radhiyallahu anhu .
6. 'Amr bin Mutharrif bin 'Alqamah bin 'Amr Radhiyallahu anhu .
7. Aus bin Tsâbit bin al-Mundzir Radhiyallahu anhu .
8. Anas bin an-Nazhar Radhiyallahu anhu .
9. Qais bin Mukhallad Radhiyallahu anhu .
10. Kaisân maula Bani 'Adi bin an-Najjâr Radhiyallahu anhu .
11. Sulaim bin al-Hârits Radhiyallahu anhu .
12. Nu'mân bin Abdi 'Amr Radhiyallahu anhu .
13. Khârijah bin Zaid bin Abâi Zuhair Radhiyallahu anhu .
14. Sa'ad bin ar-Rabî' bin 'Amr bin Abu Zuhair Radhiyallahu anhu .
15. Aus bin al-Arqam bin Zaid Radhiyallahu anhu .
16. Mâlik bin Sinân bin 'Ubaid Radhiyallahu anhu (ayah Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu anhu ).
17. Sa'id bin Suwaid bin Qais bin 'Âmir bin 'Abbâd bin al-Abjar Radhiyallahu anhu .
18. 'Utbah bin Rabî bin Râfi' Radhiyallahu anhu .
19. Tsa'labah bin Sa'd bin Mâlik Radhiyallahu anhu .
20. Tsaqf bin Farwah bin al-Badan Radhiyallahu anhu .
21. 'Abdullah bin 'Amr bin Wahb Radhiyallahu anhu .
22. Dhamrah bin 'Amr bin Ka'b bin 'Amr bin al-Juhani Radhiyallahu anhu .
23. Naufal bin 'Abdullah Radhiyallahu anhu .
24. 'Abbâs bin 'Ubâdah bin Nadhlah bin Mâlik bin al-'Ajlân Radhiyallahu anhu .
25. Nu'mân bin Mâlik bin Tsa'labah bin Fihr bin Ghanm bin Salîm Radhiyallahu anhu .
26. al Mujaddar bin Dziyâd bin 'Amr bin Zamzamah bin 'Amr bin 'Amârah Radhiyallahu anhu .
27. 'Ubâdah bin al-Hashâs Radhiyallahu anhu .
28. Rifâ'ah bin 'Amr Radhiyallahu anhu .
29. 'Abdullah bin 'Amr bin Harâm bin Tsa'labah bin Harâm Radhiyallahu anhu .
30. 'Amr bin al-Jamûh bin Zaid bin Harâm Radhiyallahu anhu .
31. Khallâd bin 'Amr bin al-Jamûh bin Zaid bin Harâm Radhiyallahu anhu .
32. Abu Aiman maula 'Amr bin al-Jamûh Radhiyallahu anhu .
33. Salîm bin 'Amr bin Hadîdah Radhiyallahu anhu .
34. 'Antarah maula Salîm bin 'Amr bin Hadîdah Radhiyallahu anhu .
35. Sahl bin Qais bin Abu Ka'b bin al Qain Radhiyallahu anhu .
36. Dzakwân bin Abd Qais Radhiyallahu anhu .
37. 'Ubaid bin al-Mu'alla bin Ludzân Radhiyallahu anhu .

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Shared from Almanhaj.or.id for android http://bit.ly/Almanhaj

Selengkapnya..

Membawa Tanah Mekah ke Tanah Air

Daerah Mekah dan Madinah merupakan tanah haram yang memiliki hukum khusus.

Allah berfirman,

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekkah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. An-Naml: 91)

Dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan rahasia penamaan Mekah dengan tanah haram,

إِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَرَّمَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، فَهْوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَإِنَّهُ لَمْ يَحِلَّ الْقِتَالُ فِيهِ لأَحَدٍ قَبْلِى ، وَلَمْ يَحِلَّ لِى إِلاَّ سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ

“Sesungguhnya kota ini, Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan bumi. Dia adalah kota suci dengan dasar kemuliaan yang Allah tetapkan sampai hari Kiamat. Belum pernah Allah halalkan berperang di dalamnya, sebelumku. Dan Allah tidak halalkan bagiku untuk memerangi penduduknya, kecuali beberapa saat di waktu siang (ketika Fathu Mekah).

Selanjutnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan hukum yang berlaku, sebagai konsekuensi Allah jadikan tanah ini sebagai kota haram. Beliau bersabda,

فَهْوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ؛ لاَ يُعْضَدُ شَوْكُهُ ، وَلاَ يُنَفَّرُ صَيْدُهُ ، وَلاَ يَلْتَقِطُ لُقَطَتَهُ إِلاَّ مَنْ عَرَّفَهَا ، وَلاَ يُخْتَلَى خَلاَهُ

Dia haram dengan kemuliaan yang Allah berikan, sampai hari kiamat.  Tidak boleh dipatahkan ranting pohon-nya, tidak boleh diburu hewannya, tidak boleh diambil barang hilangnya, kecuali untuk diumumkan, dan tidak boleh dicabut rerumputan hijaunya. (HR. Bukhari  3189 & Muslim 3289)

Apakah mengambil tanah atau kerikil di Mekah maupun di Madinah, termasuk dalam cakupan hadis ini?

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum mengambil tanah di Mekah atau Madinah, kemudian dibawa ke luar daerah.

Pertama, Dibolehkan mengambil tanah atau kerikil kota Mekah atau Madinah ke luar daerah.

Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan ulama hanafiyah. Mereka beralasan bahwa tidak ada dalil yang melarang hal ini. Sehingga kembali  kepada hukum asal yaitu mubah. Sementara hadis tentang haramnya daerah Mekah dan Madinah, itu berlaku untuk selain tanah. Seperti pepohonan, binatang, dan yang lainnya.

Kedua, Makruh mengambil tanah atau kerikil kota Mekah atau Madinah ke luar daerah.

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, diantaranya Syafiiyah dan Hambali. Mereka berdalil dengan pernyataan Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum.

Ibnu Jasir mengatakan,

قال الإمام أحمد: لا يخرج من تراب المدينة، كذلك قال ابن عمر وابن عباس. ولا يخرج من حجارة مكة إلى الحل. قال في المنتهى: وكره إخراج تراب الحرم وحجارته إلى الحل

Imam Ahmad mengatakan, “Tidak boleh mengeluarkan tanah Madinah.” Ini juga yang dinyatakan Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Tidak boleh mengeluarkan kerikil Mekah keluar kota Mekah. Dalam kitab al-Muntaha dinyatakan, makruh membawa keluar tanah dan kerikil di daerah haram ke luar daerah haram. (Mufidul Anam fi Tahrir Ahkam lil Haj, 1/233).

Al-Mubarokfuri menukil keterangan al-Muhib at-Thabari yang menjelaskan,

روي عن ابن عمر وابن عباس رضي الله عنهم أنهما كرها أن يخرج من تراب الحرم وحجارته إلى الحل شيء

Diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum bahwa keduanya memakruhkan membawa keluar sedikitpun tanah dan kerikil Mekah ke daerah halal. (Mur’atul Mafatih, 9/478).

Ketiga, haram membawa keluar tanah atau bebatuan di kota Mekah dan Madinah ke luar wilayah.

Ini merupakan pendapat sebagian Syafi’iyah.

An-Nawawi dalam Syarh al-Muhadzab mengatakan,

فحصل خلاف للأصحاب في أن إخراجهما مكروه أو حرام، قال المحاملي وغيره: فإن أخرجه فلا ضمان

Ada perbedaan pendapat di kalangan Syafiiyah tentang hukum membawa keluar tanah atau bebatuan dari Mekah, makruh ataukah haram. Meskipun al-Muhamili dan yang lainnya mengatakan, ‘Jika ada orang yang membawa keluar, maka dia tidak wajib ganti rugi.’ (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 7/459)

Dan pendapat yang lebih mendekati dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan makruh. Berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar.

Bagi Yang Sudah Terlanjur Mengambil

Bagi yang sudah terlanjur mengambil dan membawanya ke tanah air maka dia bisa melakukan tahapan berikut,

[1] Bertaubat dan memohon ampun kepada Allah karena telah melakukan kesalahan

[2] Mengembalikan tanah atau bebatuan, baik dikembalikan sendiri atau dititipkan orang lain

[3] Jika tidak mampu mengembalikannya, bisa diletakkan di tempat manapun yang suci.

Allah berfirman,

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani jiwa kecuali sebatas kemampuannya.” (QS. al-Baqarah: 286).

Dalam Ensiklopedi Islam dinyatakan,

صرح الشافعية بحرمة نقل تراب الحرم ، وأحجاره ، وما عمل من طينه – كالأباريق وغيرها – إلى الحل ، فيجب رده إلى الحرم

Syafi’iyah menegaskan haramnya membawa keluar tanah atau bebatuannya dari daerah haram. Juga tidak boleh membuat kreasi dari tanah Mekah, misalnya dibuat kendi. Jika dibawa  ke luar tanah haram maka wajib mengembalikannya. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 17/195)

Al-Mawardi mengatakan,

فإن أخرج من حجارة الحرم ، أو من ترابه شيئاً : فعليه ردُّه إلى موضعه ، وإعادته إلى الحرم

Jika dia membawa keluar bebatuan dari daerah haram atau sebagian tanahnya, maka dia wajib mengembalikannya ke tempat semula dan mengembalikannya ke tanah haram. (al-Hawi fi al-Fiqh as-Syafii, 4/314).

Allahu a’lam.

https://konsultasisyariah.com/29444-membawa-tanah-mekah-ke-tanah-air.html

Selengkapnya..

Kamis, 20 April 2017

PERANG UHUD

Pengalaman pahit yang dirasakan oleh kaum Quraisy dalam perang Badar telah menyisakan luka mendalam nan menyakitkan. Betapa tidak, walaupun jumlah mereka jauh lebih besar dan perlengkapan perang mereka lebih memadai, namun ternyata mereka harus menanggung kerugian materi yang tidak sedikit. Dan yang lebih menyakitkan mereka adalah hilangnya para tokoh mereka. Rasa sakit ini, ditambah lagi dengan tekad untuk mengembalikan pamor Bangsa Arab yang telah terkoyak dalam Perang Badar, mendorong mereka melakukan aksi balas dendam terhadap kaum Muslimin. Sehingga terjadilah beberapa peperangan setelah Perang Badar. Perang Uhud termasuk di antara peperangan dahsyat yang terjadi akibat api dendam ini. Disebut perang Uhud karena perang ini berkecamuk di dekat bukit Uhud. Sebuah bukit dengan ketinggian 128 meter kala itu, sedangkan sekarang ketinggiannya hanya 121 meter. Bukit ini berada di sebelah utara Madinah dengan jarak 5,5 km dari Masjid Nabawi.

WAKTU KEJADIAN
Para Ahli Sirah sepakakat bahwa perang ini terjadi pada bulan Syawwâl tahun ketiga hijrah Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah. Namun mereka berselisih tentang harinya. Pendapat yang yang paling Masyhûr menyebutkan bahwa perang ini terjadi pada hari Sabtu, pertengahan bulan Syawwal.

PENYEBAB PERANG
Di samping perang ini dipicu oleh api dendam sebagaimana disebutkan diawal, ada juga penyebab lain yang tidak kalah pentingnya yaitu misi menyelamatkan jalur bisnis mereka ke Syam dari kaum Muslimin yang dianggap sering mengganggu. Mereka juga berharap bisa memusnahkan kekuatan kaum Muslimin sebelum menjadi sebuah kekuatan yang dikhawatirkan akan mengancam keberadaan Quraisy. Inilah beberapa motivasi yang melatarbelakangi penyerangan yang dilakukan oleh kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin di Madinah.

 JUMLAH PASUKAN
Kaum Quraisy sejak dini telah mempersiapkan pasukan mereka. Barang dagangan dan keuntungan yang dihasilkan oleh Abu Sufyân beserta rombongan yang selamat dari sergapan kaum Muslimin dikhususkan untuk bekal pasukan mereka dalam perang Uhud. Untuk menyukseskan misi mereka dalam perang Uhud ini, kaum Quraisy berhasil mengumpulkan 3 ribu pasukan yang terdiri dari kaum Quraisy dan suku-suku yang loyal kepada Quraisy seperti Bani Kinânah dan penduduk Tuhâmah. Mereka memiliki 200 pasukan kuda dan 700 pasukan bertameng. Mereka mengangkat Khâlid bin al-Walîd sebagai komandan sayap kanan, sementara sayap kiri di bawah komando Ikrimah bin Abu Jahl. Mereka juga mengajak beberapa orang wanita untuk membangkitkan semangat pasukan Quraisy dan menjaga mereka supaya tidak melarikan diri. Sebab jika ada yang melarikan diri, dia akan dicela oleh para wanita ini. Tentang jumlah wanita ini, para Ahli Sirah berbeda pendapat. Ibnu Ishâq rahimahullah menyebutkan bahwa jumlah mereka 8 orang, al-Wâqidi rahimahullah menyebutkan 14 orang sedangkan Ibnu Sa’d rahimahullah menyebutkan 15 wanita.

MIMPI RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM
Sebelum peperangan ini berkecamuk, Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperlihatkan peristiwa yang akan terjadi dalam perang ini melalui mimpi. Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan mimpi ini kepada para Sahabatnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 رَأَيْتُ فِي رُؤْيَايَ أَنِّي هَزَزْتُ سَيْفًا فَانْقَطَعَ صَدْرُهُ فَإِذَا هُوَ مَا أُصِيبَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ أُحُدٍ ثُمَّ هَزَزْتُهُ بِأُخْرَى فَعَادَ أَحْسَنَ مَا كَانَ فَإِذَا هُوَ مَا جَاءَ اللَّهُ بِهِ مِنَ الْفَتْحِ وَاجْتِمَاعِ الْمُؤْمِنِينَ وَرَأَيْتُ فِيهَا بَقَرًا وَاللَّهُ خَيْرٌ فَإِذَا هُمُ الْمُؤْمِنُونَ يَوْمَ أُحُدٍ وَإِذَا الْخَيْرُ مَا جَاءَ اللَّهُ بِهِ مِنْ الْخَيْرِ وَثَوَابِ الصِّدْقِ الَّذِي آتَانَا اللَّهُ بَعْدَ يَوْمِ بَدْرٍ 
"Saya bermimpi mengayunkan pedang lalu pedang itu patah. Itu (isyarat-pent) musibah yang menimpa kaum Muslimin dalam Perang Uhud. Kemudian saya ayunkan lagi pedang itu lalu pedang itu baik lagi, lebih baik dari sebelumnya. Itu (isyarat-pent) kemenangan yang Allah Azza wa Jalla anugerahkan dan persatuan kaum Muslimin. Dalam mimpi itu saya juga melihat seekor sapi – Dan apa yang Allah lakukan itu adalah yang terbaik- Itu (isyarat) terhadap kaum Muslimin (yang menjadi korban) dalam perang Uhud. Kebaikan adalah kebaikan yang Allah Azza wa Jalla anugerahkan dan balasan kejujuran yang Allah Azza wa Jalla karuniakan setelah perang Badar".

Dalam riwayat lain :
 وَرَأَيْتُ أَنِّي فِي دِرْعٍ حَصِينَةٍ فَأَوَّلْتُهَا الْمَدِينَةَ 
"Dan saya melihat diriku berada dalam baju besi yang kuat. Baju besi yang kuat ini saya takwilkan Madinah"

Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menakwilkan mimpi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dengan kekalahan dan kematian yang akan terjadi dalam Perang Uhud.

Saat mengetahui kedatangan Quraisy untuk menyerbu kaum Muslimin di Madinah, Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak para Sahabat bermusyawarah untuk mengambil tindakan terbaik. Apakah mereka tetap tinggal di Madinah menunggu dan menyambut musuh di kota Madinah ataukah mereka akan menyongsong musuh di luar Madinah ?

Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam cenderung mengajak para Sahabat bertahan di Madinah dan melakukan perang kota, namun sekelompok kaum Anshâr Radhiyallahu anhum mengatakan, “Wahai Nabiyullâh ! Sesungguhnya kami benci berperang di jalan kota Madinah. Pada jaman jahiliyah kami telah berusaha menghindari peperangan (dalam kota), maka setelah Islam kita lebih berhak untuk menghindarinya. Cegatlah mereka (di luar Madinah)” !

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiap untuk berangkat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan baju besi dan segala peralatan perang. Setelah menyadari keadaan, para Sahabat saling menyalahkan. Akhirnya, mereka mengatakan: “Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan sesuatu, namun kalian mengajukan yang lain. Wahai Hamzah Radhiyallahu anhu, temuilah Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan katakanlah, ‘Kami mengikuti pendapatmu.’ Hamzah Radhiyallahu anhu pun datang menemui Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, ‘Wahai Rasulullâh, sesungguhnya para pengikutmu saling menyalahkan dan akhirnya mengatakan, ‘Kami mengikuti pendapatmu.’ Mendengar ucapan paman beliau ini, Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Sesungguhnya jika seorang nabi sudah mengenakan peralatan perangnya, maka dia tidak akan menanggalkannya hingga terjadi peperangan’.

Keputusan musyawarah tersebut adalah menghadang musuh di luar kota Madinah. Ibnu Ishâq rahimahullah dan yang lainnya menyebutkan bahwa`Abdullâh ibnu Salûl setuju dengan pendapat Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap bertahan di Madinah. Sementara at-Thabariy membawakan riwayat yang berlawanan dengan riwayat Ibnu Ishâq rahimahullah, namun dalam sanad yang kedua ini ada orang yang tertuduh dan sering melakukan kesalahan. Oleh karena itu, al-Bâkiriy dalam tesisnya lebih menguatkan riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Ishâq rahimahullah.

Para Ulama Ahli Sirah menyebutkan bahwa yang memotivasi para Sahabat untuk menyongsong musuh di luar Madinah yaitu keinginan untuk menunjukkan keberaniaan mereka di hadapan musuh, juga keinginan untuk turut andil dalam jihad, karena mereka tidak mendapat berkesempatan untuk ikut dalam Perang Badar. Sementara, Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih memilih untuk tetap tinggal dan bertahan di Madinah, karena Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memanfaatkan bangunan-bangunan Madinah serta memanfaatkan orang-orang yang tinggal di Madinah.

Setelah bermusyawarah dengan para shahabat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan untuk menyambut serangan kaum kuffar Makkah dan sekitarnya diluar Madinah. Sebelum berangkat, Rasulullah membagi pasukan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi tiga regu dan masing-masing diberi bendera. Bendera regu Muhajirin diserahkan kepada Mush’ab bin Umar Radhiyallahu anhu yang selanjutnya diganti oleh Ali bin Abu Thâlib setelah Mush’ab Radhiyallahu anhu wafat sebagai syahid di medan tempur, bendera Aus dibawa oleh Usaid bin Hudhair sementara satu bendera lagi yaitu bendera Khazraj dipercayakan kepada al Habbab bin al Mundzir Radhiyallahu anhu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan Madinah pada hari Jum’at disertai dengan seribu pasukan. Diantara mereka ada 100 orang yang mengenakan baju besi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pada saat itu mengenakan dua lapis baju besi.

Sebelum meninggalkan Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan amanah kepada Abdullah bin Ummi Maktûm untuk mengimami shalat kaum muslimin di Madinah. Ketika sudah melewati bukit Wadâ’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sekelompok orang yang bersenjata lengkap. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: "Siapa mereka ?” Para shahabat menjawab : “Itu adalah Abdullah bin Ubay ibnu Salul beserta teman-temannya orang-orang Yahudi Bani Qainuqâ’, kelompoknya Abdullah bin Salam yang berjumlah enam ratus. Mereka” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi : “Apakah mereka sudah memeluk agama Islam ?” Para shahabat menjawab : “Tidak, wahai Rasulullah.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Suruhlah mereka pulang ! kita tidak akan minta bantuan kepada orang-orang musyrik dalam rangka menghadapi orang-orang musyrik juga.” Jika riwayat ini benar, berarti pengusiran terhadap Bani Qainuqâ’ itu terjadi setelah perang Uhud.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Muslimin melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di as-Syauth (nama tempat), tokoh munafik Abdullah bin Ubay ibnu Salul diikuti oleh tiga ratus munafik lainnya membelot, kembali dan tidak mau ikut berperang. Mereka beralasan bahwa peperangan tidak akan terjadi. Pembelotan ini juga sebagai bentuk protes terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memutuskan untuk menyambut kedatangan musuh di luar Madinah. Dalam merespon tindakan buruk yang dilakukan orang-orang munafik ini, para shahabat terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok memandang agar kaum muslimin menyerang dan memberi pelajaran kepada orang-orang munafik ini sementara satu kelompok lagi memandang tidak perlu menyerang mereka. lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya :
 فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا 
"Maka mengapa kalian (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah Telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ?" [an-Nisa’/4:88]

Menyaksikan pembelotan Abdullah bin Ubay ibnu Salul ini, Abdullah bin ‘Amr bin Harâm Radhiyallahu anhu menyusul mereka hendak mengingatkan agar kembali dan bergabung dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun uapaya ini gagal dan mereka tetap menolak. Akhirnya, Abdullah bin ‘Amr bin Harâm Radhiyallahu anhu geram dan mengatakan : “Semoga Allah Azza wa Jalla menjauhkan kalian dari rahmat-Nya, wahai musuh-musuh Allah ! Allah Azza wa Jalla pasti akan menjadikan nabi-Nya tidak butuh pada kalian." Isyarat tentang dialog ini terdapat dalam firman Allah Azza wa Jalla :
 وَمَا أَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِينَ﴿١٦٦﴾وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا ۖ قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ 
"Dan apa yang menimpa kalian pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)". mereka berkata: "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu" Pada hari itu, mereka lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan". [Ali Imrân/3:166-167]

Ketika itu, Bani salamah dari suku Khazraj dan Bani Hâritsah dari suku Aus hampir saja ikut mundur dan bergabung bersama orang-orang munafik, namun Allah Azza wa Jalla memberikan mereka keteguhan hati untuk tetap bertahan dengan kaum Muslimin. Tentang mereka ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
 إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ 
"Ketika dua golongan dari kalian ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal hanya kepada Allah" [Ali Imrân/3:122]

Rasulullah beserta kaum Muslimin terus melanjutkan perjalanan. Ketika tiba di daerah Syaikhân, mereka beristirahat dan bermalam disana. Disinilah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada beberapa pemuda untuk kembali dan tidak memperkenankan mereka ikut terjun ke medan tempur. Hal ini disebabkan karena usia mereka yang masih terlalu muda, yaitu masih berusia empat belas tahun kebawah. Diantara mereka yang disuruh pulang adalah Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsâbit, Usâmah bin Zaid, Nu’mân bin Basyîr, Zaid bin Arqam, Barrâ’ bin ‘âzib dan lain-lain, termasuk diantara yang ditolak oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma. Jumlah anak-anak muda yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk kembali ini sekitar 14 orang.

Pada saat yang sama, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ijin kepada Raafi’ bin Khadiij Radhiyallahu anhu karena dia ahli memanah juga memberikan ijin kepada Samurah bin Jundub karena dia lebih kuat dibandingkan Raafi’. Saat itu, usia keduanya juga sudah lima belas tahun. Oleh karena itu, ada yang berpendapat bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ijin kepada mereka karena usia mereka yang sudah lima belas tahun, bukan karena kemampuan mereka.

Pada malam ini, Dzakwân bin Abdil Qais senantiasa berjaga-jaga, bahkan ada yang mengatakan, beliau Radhiyallahu anhu tidak pernah meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Pembelotan yang dilakukan oleh kaum munafiqin menyebabkan jumlah pasukan kaum Muslimin berkurang. Namun, ini tidak mengendorkan semangat tempur para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah menginap pada malam itu, pada harinya yaitu Sabtu pagi, kaum Muslimin melanjutkan perjalanan menuju bukit Uhud. Ketika sudah sampai di sana, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai mengatur strategi. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pasukan kaum Muslimin untuk membelakangi bukit Uhud dan menghadap ke Madinah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menempatkan 50 orang pemanah untuk berada di puncak bukit ‘Ainain. Tugas para pemanah yang dipimpin oleh ‘Abdullâh bin Jubair Radhiyallahu anhu ini adalah melindungi kaum Muslimin yang berada di bawah bukit dari serangan kaum kafir Quraisy yang mungkin dilakukan dari arah belakang kaum Muslimin. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang keras para pemanah ini meninggalkan tempat mereka ini, meskipun dalam keadaan genting kecuali ada perintah dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 إِنْ رَأَيْتُمُوْنَا تَخْطَفُنَا الطَّيْرُ فَلاَ تَبْرَحُوْا مَكَانَكُمْ هَذَا حَتَّى أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ وَإِنْ رَأَيْتُمُوْنَا هَزَمْنَا الْقَوْمَ وَأَوْطَأْنَاهُمْ فَلاَ تَبْرَحُوْا حَتَّى أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ
"Meskipun kalian melihat kami disambar burung, janganlah kalian meninggalkan tempat kalian ini sampai aku mengutus utusan kepada kalian. Meskipun kalian melihat kami telah berhasil mengalahkan mereka, maka janganlah kalian meninggalkan tempat kalian ini sampai aku mengutus utusan kepada kalian" [HR. al- Bukhâri]

Dengan strategi ini, kaum Muslimin berhasil menguasai dataran-dataran yang tinggi dan membiarkan lembah untuk pasukan Quraisy menghadap ke bukit Uhud dan membelakangi Madinah. Ketika kedua pasukan yang berlawanan ini mulai semakin mendekat, Abu ‘Amir memanggil kaumnya yaitu kabilah Aus untuk bergabung bersamanya di barisan kaum kafir Quraisy. Mendengar seruan ini, para Sahabat menolaknya dengan keras. Mereka mengatakan, “Wahai orang fasik ! Semoga Allah Azza wa Jalla tidak memberikan kenikmatan kepadamu !” Mendengar jawaban yang tidak diharapkan ini, dia pun kembali dengan penuh kedongkolan.

Setelah itu, pertempuran sengit antara dua pasukan ini tak terhindarkan lagi. Pasukan Muslimin bertempur dengan penuh semangat, tekad mereka hanya untuk membunuh atau terbunuh. Sehingga dalam waktu singkat mereka berhasil memukul mundur pasukan Quraisy ke markas mereka sampai mendekati barisan kaum wanita yang mendukung mereka. Untuk semakin mengobarkan semangat tempur para Sahabat Radhiyallahu anhum, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghunus pedang sambil bersabda, “Siapakah yang mau mengambil pedang ini dariku ?” Seluruh Sahabat yang mendengar ini sontak mengacungkan tangan sebagai isyarat bahwa mereka menginginkannya. Semua mengatakan, “Saya! Saya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, “Siapakah yang bersedia mengambilnya beserta haknya ?” Mendengar ini, para Sahabat menahan diri. Lalu Abu Dujânah Radhiyallahu anhu mengatakan, “Saya bersedia mengambilnya beserta haknya.” Lalu Abu Dujânah Radhiyallahu anhu mengambilnya dan mempergunakannya untuk membabat tubuh-tubuh musuh Islam. [HR Muslim, 4/1917, no. 2470]

Para Sahabat bertempur dengan penuh kesatria. Telah tercatat dalam lembaran sejarah keberanian yang ditunjukkan oleh Hamzah bin ‘Abdul Muththalib Radhiyallahu anhu juga para Sahabat yang lain. Ketika beliau Radhiyallahu anhu mendengar tantangan dari salah seorang kafir Quraisy yang bernama Sibâ’ bin ‘Abdil Uzzâ, beliau Radhiyallahu anhu bergegas menyambut tantangan tersebut. Beliau Radhiyallahu anhu berhasil mengalahkan orang kafir tersebut.

Sementara di tempat lain, ada Wahsyi, budak hitam milik Jubair bin Muth’im yang selalu mengintai kesempatan untuk menyerang Hamzah Radhiyallahu anhu. Oleh tuannya, Wahsyi dijanjikan merdeka jika berhasil menghabisi Hamzah Radhiyallahu anhu , sebagai pembalasan terhadap Hamzah Radhiyallahu anhu yang telah membunuh Thu’aimah bin ‘Adi dalam perang Badar. Dia mengendap-ngendap berusaha mendekati Hamzah Radhiyallahu anhu, ketika melihat Hamzah Radhiyallahu anhu berada dalam jangkauan serangannya, dia mulai membidik Hamzah Radhiyallahu anhu dengan tombaknya dan melemparnya. Lemparannya tepat mengenai sasaran sehingga menyebabkan Hamzah Radhiyallahu anhu wafat sebagai syahid dalam peperangan ini. Wahsyi berhasil membunuh Hamzah Radhiyallahu anhu dengan cara yang sangat curang.

Sementara itu, peperangan terus berlangsung. Mush’ab bin Umair Radhiyallahu anhu terus bertempur sambil membawa bendera sampai akhirnya beliau Radhiyallahu anhu gugur. Selanjutnya, bendera dibawa oleh Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu . Kaum Muslimin terus berjuang sehingga memaksa kaum Kafir mundur. Pada babak pertama ini, kaum Muslimin berhasil memenangkan pertarungan. Tentang ini, Allah Azza wa Jalla berfirman :
 وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ 
"Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian, ketika kalian bisa membunuh mereka dengan izin-Nya" [Ali Imrân/3:152]

Ketika melihat pasukan musuh lari tunggang langgang, pasukan `Abdullâh bin Jubair Radhiyallahu anhu mengatakan : “Ghanîmah … Ayo kawan-kawan ! ghanîmah … teman-teman kalian sudah menang, tunggu apa lagi ?” Mendengar ajakan ini, `Abdullâh Radhiyallahu anhu berusaha mengingatkan, “Apakah kalian telah lupa pesan Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalian ?” Mereka menjawab, “Demi Allah ! Kami akan mendatangi mereka kemudian mengambil ghanîmah !” Lalu mereka bergegas meninggalkan tempat itu dan melanggar pesan Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka ikut serta mengumpulkan ghanîmah. Melihat kaum Muslimin tersibukkan oleh ghanîmah,

Khâlid bin Walîd sebagai salah satu komandan kaum Quraisy tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dia memerintahkan pasukannya untuk kembali ke medan tempur. Mendapatkan serangan dadakan dan tak terduga ini, jelas membuat kaum Muslimin kelabakan dan kocar-kacir serta membuat suasana jadi kacau tak terkendali. Sampai-sampai kaum Muslimin kesulitan untuk membedakan antara kawan dan lawan. Dalam suasana kacau inilah, kaum Muslimin menyerang dan membunuh al-Yamân, orang tua Sahabat yang bernama Hudzaifah, padahal Hudzaifah Radhiyallahu anhu sudah berteriak bahwa yang sedang mereka serang itu adalah ayahnya. Akhirnya, al-Yamân meninggal di tangan kaum Muslimin. Setelah memastikan orang tuanya meninggal, Hudzaifah Radhiyallahu anhu mengatakan, “Semoga Allah Azza wa Jalla mengampuni kalian”.

Dalam pertempuran babak kedua ini, banyak kaum Muslimin yang gugur sebagai syahid. Kaum Muslimin juga kehilangan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tersiar kabar bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah gugur. Berbagai tindakan dilakukan oleh kaum Muslimin sebagai respon terhadap berita wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada yang lari meninggalkan medan tempur, sebagian terdiam tidak mau bertempur lagi, sementara sebagian lagi terus berjuang dan berusaha mengobarkan semangat tempur kaum Muslimin. Di antara yang terus berjuang dan mengobarkan semangat kaum Muslimin yaitu Anas bin Nadhar Radhiyallahu anhu yang bertekad menebus ketidakikut-sertaannya dalam perang Badar.

Ketika melihat sebagian kaum Muslimin diam tidak bersemangat lagi, beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, “Surga, demi Rabbnya Nadhar! Sungguh aku mencium bau surga di balik Uhud !” Kemudian beliau Radhiyallahu anhu maju bertempur sampai gugur sebagai syahid. Ketika jasad beliau ditemukan, tidak ada seorang Sahabat pun yang bisa mengenalinya karena begitu banyak luka tusuk akibat tombak atau panah dan sayatan pedang di tubuh beliau Radhiyallahu anhu. Tentang Anas bin Nadhar Radhiyallahu anhu ini atau para Mujahidin yang semisal dengan beliau Radhiyallahu anhu, Allah Azza wa Jalla berfirman:
 مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
"Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)" [al-Ahzâb/33:23]

PELAJARAN DARI KISAH
1. Kaum Muslimin yang sedang berada di daerah, jika diserbu oleh musuh, maka mereka tidak wajib menyongsong kedatangan musuh. Mereka boleh tetap memilih bertahan di rumah-rumah mereka dan memerangi musuh di sana. Ini jika strategi ini diharapkan lebih mudah untuk mengalahkan musuh. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Uhud.
2. Seorang pemimpin berhak untuk tidak memberikan ijin kepada anak-anak muda yang belum baligh dan tidak memiliki kemampuan untuk ikut berperang. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah terhadap Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma dan kawan-kawan beliau yang disuruh pulang karena masih terlalu belia.
 3. Bolehnya mendatangi barisan musuh untuk melakukan penyerangan, sebagaimana yang dilakukan oleh Anas bin Nadhar Radhiyallahu anhu dan yang lainnya.
4. Jika dalam peperangan, pasukan kaum Muslimin membunuh seorang Muslim karena dikira musuh, maka beban diyat dipikulkan kepada imam dan diambilkan dari Baitul Mal, sebagaimana dalam perang Uhud. Ketika kaum Muslimin membunuh orang tua Hudzaifah Radhiyallahu anhuma yang dikira musuh. Ketika Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak membayarkan diyat (tebusan) nya kepada Hudzaifah Radhiyallahu anhuma, beliau Radhiyallahu anhuma menolaknya dan menyedekahkannya kepada kaum Muslimin. Sungguh mulia hati Sahabat Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini.

Marâji’ :
- As-Sîratun Nabawiyah Fî Dhauil Mashâdiril Ashliyyah, Dr Mahdi Rizqullâh
- Fiqhus Sîratin Nabawiyah min Zâdil Ma’âd Fî Hadyi Khairil 'Ibâd, Dr Sayyid al Jamîli, Cet. Dârul Fikri al Arabi-Bairut

Shared from Almanhaj.or.id for android http://bit.ly/Almanhaj

Selengkapnya..